Jawab Tantangan Milenial, BPJS TK Luncurkan Aplikasi Perisai

Oleh Maulandy Rizky Bayu Kencana pada 14 Des 2017, 15:39 WIB
Diperbarui 14 Des 2017, 15:39 WIB
20160504- BPJS Ketenagakerjaan-Jakarta- Fery Pradolo
Perbesar
Direktur Perencanaan Strategis dan TI BPJS Ketenagakerjaan, Sumarjono, meninjau pelayanan di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Salemba, Jakarta, Rabu (4/5). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati hari buruh.(Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Menyambut ulang tahun ke-40, Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) mengadakan simposium nasional dengan tema Transformasi Layanan Publik dalam Merespon Era Digital. Kegiatan tersebut diadakan demi menjawab tantangan, bahwa lembaga pelayanan jasa seperti mereka dapat inovatif dan peka terhadap perubahan zaman.

Acara tersebut digelar di XXI Ballroom Djakarta Theater pada Kamis (14/12/2017), dengan mengundang sejumlah pembicara seperti Pakar Pemasaran Hermawan Kartajaya, Tenaga Ahli Bidang Kebijakan Publik Kemenpar Riant Nugroho dna Wakil Ketua Ombudsman RI Lely Pelitasari Soebekty.

Selain itu juga hadir Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan PT BNI (Persero) Catur Budi harto, dan Vice President Consumer Relationship PT Telkom Indonesia Agus Winarno.

Dalam sambutannya, Direktur Utama BPJS TK Agus Susanto mengatakan, perseroan mengadakan diskusi ini untuk saling bertukar informasi dengan para ahli demi memajukan pelayanan publik di era disruption, atau perkembangan teknologi digital.

Disruption telah berdampak luas pada sektor perekonomian, bisnis, dan layanan publik. "Kita harus berinovasi agar tidak tertelan zaman dan gulung tikar karena kalah oleh teknologi digital," tukasnya.

Agus juga menuturkan, BPJS TK ingin menyanggah anggapan banyak orang terkait badan hukum publik yang sering dinilai kurang inovatif dan lambat. Dia memandang ini bukan sebagai sebuah ancaman, namun tantangan.

"Kita sudah memasuki gerbang baru, di mana masyarakat milenial sudah jengah dengan alasan keterlambatan demi menggapai kualitas. Mereka meminta pelayanan yang cepat dan berkualitas, kita akan menjawab tantangan itu," katanya.

BPJS TK menjawab permintaan zaman itu dengan mengembangkan sistem berbasis teknologi, dan meluncurkan aplikasi digital 'Perisai'. Aplikasi tersebut baru dijalankan sekitar tiga minggu, dan diharapkan dapat tersebar luas kepada peserta aktif BPJS TK pada tahun depan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Kinerja BPJS TK

20160504- BPJS Ketenagakerjaan-Jakarta- Fery Pradolo
Perbesar
Petugas melayani warga pengguna BPJS di di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Salemba, Jakarta, Rabu (04/5). BPJS menargetkan 22 juta tenaga kerja dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.(Liputan6.com/Fery Pradolo)

Sebelumnya, Agus mengungkapkan bahwa total iuran BPJS Ketenagakerjaan sudah mencapai Rp 50 triliun atau tumbuh 14,2 persen atau sudah capai 90 persen dari target tahunan pada akhir November 2017. Agus yakin target iuran sebesar Rp 55 triliun akan tercapai akhir tahun.

"Kami sedang intensifkan upaya penagihan iuran bekerja sama dengan berbagai pihak, sehingga kami yakin target iuran akan tercapai," ujar Agus di acara penandatanganan nota kesepahaman "Sinergi Fungsi KBRI di Singapura dan BPJS Ketenagakerjaan untuk Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan bagi Pekerja Migran di Singapura" di Singapura, Sabtu, (9/12/2017).

Nota kesepamahaman ditandatangani oleh Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Agus Susanto, dan Duta Besar Luar Biasa Berkuasa RI untuk Singapura, I. Ngurah Swajaya, di KBRI Singapura dan dihadiri Sekjen Kemenaker Herry Sudarmanto dan undangan lainnya.

Jumlah peserta perusahaan aktif yang tercatat sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan sudah mencapai 445 ribu, atau tumbuh 23,7 persen dari capaian tahun lalu pada periode yang sama, dan telah mencapai 104,7 persen dari target yang ditetapkan.

Sementara itu, jumlah pekerja yang terdaftar telah mencapai 44,3 juta dengan peserta aktif mencapai 25,4 juta atau tumbuh 15,5 persen atau mencapai 100,8 persen dari target tahun 2017. Pembayaran klaim jaminan juga masih dalam anggaran yang ditetapkan, yang secara total mencapai 76,3 persen dari RKAT 2017.

Pada program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), BPJS Ketenagakerjaan telah membayarkan klaim sebesar Rp 883,8 miliar untuk 112.490 kasus, sementara pada program Jaminan Kematian (JK) telah dibayarkan jaminan sebesar Rp 568,6 miliar dengan 20.557 kasus.

Lanjutkan Membaca ↓