Pegadaian Siapkan Permodalan dari Gadai Sertifikat Tanah

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 21 Nov 2017, 18:36 WIB
Diperbarui 23 Nov 2017, 18:13 WIB
PT Pegadaian (Persero).

Liputan6.com, Jakarta - PT Pegadaian (Persero) tengah menyiapkan produk baru pembiayaan berupa gadai sertifikat tanah. Rencananya, produk tersebut rilis di awal tahun depan.

Direktur Produk dan Pemasaran Pegadaian Harianto Widodo mengatakan, pembiayaan tersebut ditujukan untuk sektor produktif.

"Kami juga lagi menyiapkan yang pembiayaan mikro yang basisnya lahan tanah. Kami sudah koordinasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Artinya, kami agak berbeda, kami lebih tanah-tanah yang sudah dapat sertifikat dalam bentuk kebun maupun sawah produktif. Jadi memang pinjaman kecil Rp 10-15 juta," jelas dia di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Untuk merealisasikan produk itu, Pegadaian tengah menunggu payung hukum dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) atau Badan Pertanahan Nasional. Dalam hal ini, Pegadaian ingin adanya pengecualian Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT).

"Kami ada satu ketentuan yang lagi kami mintakan tambahan ke ATR/BPN. Jadi kan kita pengen lahan tanah bisa Surat Kuasa untuk Memberikan Hak Tanggungan (SKMHT), bukan APHT," jelas dia.

Dia juga menuturkan, selama ini, hanya bank dan koperasi yang bisa menggadaikan sertifikat tanah dengan SKMHT.

"Selama ini yang bisa SKMHT hanya perbankan dan koperasi, Pegadaian belum disebut di situ, karena Pegadaian mau masuk situ, dan OJK sudah setuju lho, maka kita akan minta relaksasi bahwa SKMHT bisa dilakukan Pegadaian supaya biaya untuk mengagunkan sertifikat itu murah bagi petani," jelas dia.

Dia menuturkan, jika masih menggunakan APHT maka pembiayaan yang sasarannya menengah bawah ini akan terasa berat. "Tujuan masyarakat, petani enggak mahal APHT. Sekarang pun bisa, tapi pakai APHT tapi kasian. Karena bisa Rp 1-1,5 juta, padahal yang dipinjam Rp 10 juta," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 of 2

Target Pegadaian pada 2018

Sebelumnya PT Pegadaian (Persero) menargetkan laba usaha Rp 3,7 triliun pada 2018. Laba tersebut diparkirakan naik sekitar Rp 300 miliar dari laba yang diproyeksi tahun ini sebesar Rp 3,42 triliun. Laba usaha perseroan hingga Oktober 2017 mencapai Rp 2,84 triliun.

Direktur Utama Pegadaian Sunarso mengatakan, perseroan mengincar pendapatan Rp 12,5 triliun pada tahun depan. Pendapatan itu naik Rp 1,7 triliun dari pendapatan tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 10,77 triliun.

"Revenue kita ingin naik Rp 1,7 triliun," kata dia dalam acara Pegadaian Sharing Session di Jakarta, Selasa 21 November 2017.

Untuk menopang kinerja tersebut, Pegadaian akan menambah 2 juta nasabah tahun depan menjadi 11,5 juta nasabah. Pegadaian akan menggenjot nasabah dari segmen mikro.

"Nanti ada skema pemerintah UMI, ultra mikro. Dan dananya dari PIP pusat investasi pemerintah. Pegadaian dipercaya menyalurkan UMI," jelas dia.

Dengan begitu, total omzet Pegadaian akan menjadi Rp 143,9 triliun atau naik Rp 4,2 triliun. Lalu, total aset akan naik Rp 7,1 triliun menjadi Rp 57,4 triliun.

Untuk memacu kinerja, Pegadaian menerapkan beberapa strategi baik dari internal maupun eksternal. Di sisi internal Pegadaian akan mengoptimalkan digitalisasi business process, standardisasi outlet, revitalisasi gudang dan logistik.

Dari sisi eksternal, Pegadaian akan mengoptimalkan agen eksternal dan aplikasi mobile. "Kemudian pengembangan layanan berbasis digital," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by