Sukses

Sri Mulyani Cs Waspadai Isu Penurunan Daya Beli Masyarakat

Menkeu Sri Mulyani menuturkan, saat ini terjadi dua hal di ekonomi, yaitu perubahan proses bisnis ke digital dan tingkah laku generasi muda.

Liputan6.com, Jakarta - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mewaspadai sentimen negatif dari penurunan daya beli masyarakat terhadap stabilitas sistem keuangan nasional. Penurunan pertumbuhan konsumsi masyarakat kelas menengah hingga perubahan bisnis dari konvensional ke era digital menjadi fokus perhatian KSSK.

Hal ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sebagai salah satu anggota KSSK saat konferensi pers di kantor pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (31/10/2017).

Pimpinan tiga institusi atau anggota KSSK yang hadir, yakni Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, dan anggota Dewan Komisioner LPS Fauzi Ichsan.

"Kami mencermati berkembangnya sentimen negatif penurunan daya beli. Persepsi penurunan daya beli ini terus-menerus menjadi perhatian kami. Kami di KSSK, melihat apakah ini persepsi atau riil," kata Sri Mulyani.

Dia menjelaskan, penerimaan negara dari pajak pertambahan nilai (PPN) dari seluruh sektor ekonomi tercatat positif dan cukup kuat dengan pertumbuhan dua digit. Dia menuturkan, ini menggambarkan adanya aktivitas ekonomi dalam pembayaran pajak tersebut.

"Ini yang membuat kami melakukan penelitian mengenai persepsi daya beli," Sri Mulyani mengatakan.

Lebih jauh, dia menuturkan, data dari Household Consumption menunjukkan, pertumbuhan konsumsi dari 30 persen masyarakat berpenghasilan rendah lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Sri Mulyani mengatakan, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi), seluruh menteri dan pemerintah daerah (pemda) fokus memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga berdampak pada tahun depan.

"Realisasi dari anggaran transfer ke daerah yang menyentuh masyarakat bawah akan tercapai sampai Desember sehingga pertumbuhan konsumsi 30 persen masyarakat terbawah masih positif. Dengan inflasi yang rendah, harga terjaga, membantu mereka," tutur Sri.

Sementara di kelas menengah, Ia menambahkan, pertumbuhan konsumsi tahun ini sekitar 5-6 persen. Namun demikian, Sri Mulyani mengaku, pertumbuhan konsumsi ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai lebih dari 8 persen.

"Pemerintah tetap optimistis pertumbuhan konsumsi dapat bertahan di level 5 persen sampai akhir tahun ini. Jadi yang kami sebut risiko tadi jangan sampai terjadi dan kami akan terus memberi informasi kepada masyarakat terkait daya beli dan pertumbuhan konsumsi ini," papar dia.

Sri Mulyani menambahkan, dalam perekonomian saat ini terjadi dua hal, yakni perubahan proses bisnis menuju digital dan tingkah laku kelompok generasi muda. "Dua hal perubahan ini yang harus disimak secara saksama, jadi pergeseran bukan penurunan," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.