Bayar Pakai E-Money, Antrean Mobil di Gerbang Tol Berkurang

Oleh Fiki Ariyanti pada 15 Okt 2017, 15:45 WIB
Diperbarui 15 Okt 2017, 15:45 WIB
Bayar Tol Tak Bisa Pakai Uang Tunai Mulai Tahun Ini
Perbesar
Suasana arus lalu lintas di area gerbang tol Semanggi 2, Jakarta, Selasa (14/3). Pembayaran gerbang tol nontunai atau secara elektronik tersebut ditergatkan rampung pada akhir 2017. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengklaim, implementasi pembayaran nontunai di gerbang tol sudah mulai memberikan dampak terhadap pengurangan antrean kendaraan. Dengan menempelkan kartu uang elektronik pada mesin, proses pembayaran hanya memerlukan waktu dua detik saja.

Kepala Sub Bidang Operasi dan Pemeliharaan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Hadi Suprayirno mengungkapkan, pemerintah menargetkan 100 persen pembayaran nontunai di seluruh gerbang tol dapat terealisasi pada 31 Oktober ini.

"Hingga 20 Oktober 2017, tingkat penetrasi uang elektronik di jalan tol secara nasional sudah mencapai 80 persen. Ini pencapaian yang bagus," kata Hadi saat Konferensi Pers di Kantor Pusat Jasa Marga, Jakarta, Minggu (15/10/2017).

Dia mengatakan, penetrasi uang elektronik di gerbang tol pada Desember 2016 masih berkisar 23 persen. Kemudian naik menjadi 32 persen saat trafik Lebaran tahun ini, tapi turun lagi menjadi 28 persen.

"Kami bersama perbankan, dan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) terus melakukan sosialisasi, menyadarkan para pengguna tol menggunakan uang elektronik. Dengan transaksi pembayaran nontunai, diharapkan mampu mengurangi antrean panjang di gerbang tol," jelas Hadi.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Vice President Operation Management Jasa Marga, Raddy R. Lukman menambahkan, rata-rata penggunaan uang elektronik di seluruh ruas tol yang dikelola perusahaan sudah melampaui penetrasi rata-rata nasional, yaitu 82 persen per 13 Oktober 2017.

"Khusus di ruas tol Jabodetabek, penetrasi uang elektronik malah sudah di atas 90 persen. Contohnya di tol Sedyatmo ke Bandara Soetta, sudah 98 persen, tol Jagorawi 92 persen, dan penetrasi di tol Jakarta-Tangerang sudah 89 persen," dia menerangkan.

Menurut Raddy, implementasi kebijakan ini sudah berdampak terhadap penurunan antrean kendaraan di gardu tol.

"Sudah kelihatan mengurangi antrean, karena tapping cuma butuh waktu dua detik. Sedangkan pakai tunai, mulai dari menyerahkan tiket, kasih uang, sampai kasih uang kembalian, waktunya enam-delapan detik. Bedanya cukup jauh," tutur dia.

Dari sisi kapasitas kendaraan yang masuk lewat gerbang tol, ia mengakui, juga ikut melonjak. Dengan sistem terbuka atau penggunaan transaksi tunai, jumlah kendaraan yang lalu lalang 400-425 kendaraan per jam.

"Tapi dengan tapping, jumlahnya bertambah menjadi 720 kendaraan per jam. Jadi kalau ada gerbang tol yang sudah padat tidak bisa bangun gardu lagi, maka nontunai solusinya kapasitas naik tanpa harus bangun gardu lagi," papar Raddy.

Namun demikian, Ia mengakui, saat masa transisi dari pembayaran tunai ke nontunai di gerbang tol masih ada kendala yang dihadapi pengguna, seperti menanyakan kartu uang elektronik, tidak memilikinya, bahkan ada yang belum tahu sama sekali.

"Pada saat masa transisi seperti sekarang, ya masih saja ada yang nanya, salah tap, masih pinjam, tidak tahu. Tapi di ruas tol yang sudah terbiasa menerapkan nontunai, ya tapping cuma dua detik, lalu pergi," ujar Raddy.

 

Lanjutkan Membaca ↓