Terkuak, Gaya Hidup Mewah Anak Orang Kaya di Korea Utara

Oleh Vina A Muliana pada 27 Sep 2017, 20:00 WIB
Diperbarui 29 Sep 2017, 19:13 WIB
Anak orang kaya Korea Utara (foto: dailymail)

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara (Korut) tengah menyita banyak perhatian masyarakat dunia. Mulai dari pernyataan kontroversialnya yang mengancam Amerika Serikat perang hingga percobaan senjata nuklir dalam beberapa waktu belakangan.

Banyak aspek dari kehidupan warga Korea Utara yang juga unik dan terkesan aneh. Salah satunya adalah gaya hidup mewah dari anak orang tajir di Korea Utara.

Di negara terisolasi yang seluruh aktivitas rakyatnya dikontrol oleh pemerintah, bisa memiliki kehidupan nyaman dengan harta berlimpah tampaknya sulit untuk dilakukan. Meski begitu, ada beberapa warga Korea Utara yang cukup beruntung bisa memiliki gaya hidup seperti ini.

Dilansir dari The Talko, Rabu (27/9/2017), anak-anak dari orang kaya Korea Utara ini hanya berjumlah 1 persen dari total jumlah penduduk di negara tersebut. Layaknya orang kaya di negara maju, kehidupan ala miliarder dengan perhiasan berlimpah, rumah serba-mewah, hingga kendaraan canggih juga dirasakan oleh mereka.

Biasanya, orang tua dari anak-anak ini bekerja di pemerintahan atau memegang kekuasaan tinggi di bidang militer. Berbeda dengan orang tuanya yang lebih mengabdikan diri untuk pemerintahan, kaum ini justru memilih hidup bebas dan tinggal di Ibu Kota Korea Utara, Pyongyang.

Satu fasilitas yang dengan mudah bisa didapatkan anak-anak ini adalah mudahnya akses mendapat makanan enak dan bergizi. Ini tentu bertolak belakang dengan kehidupan sebagian besar rakyat Korea Utara yang dirundung kemiskinan.

Anak orang kaya di Korea Utara senang minum kopi dengan harga US$ 9 atau Rp 120 ribu per cangkir. Mereka juga bisa menyantap makanan ala negara barat seperti daging dan kentang dengan harga US$ 50 atau Rp 668 ribu per porsi.

Untuk makanan khas Korea, yakni bibimbap, mereka tidak ragu mengeluarkan uang US$ 7 atau Rp 93 ribu sekali makan. Liburan anak para kaum elite ini juga sangat mewah. Mereka sangat mudah mendapatkan akses berjalan-jalan ke luar negeri.

Fakta-fakta ini sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan warga Korea Utara yang lain, di mana rata-rata warga Korut hanya memiliki pendapatan US$ 2 atau Rp 26.750 per bulan.

Beberapa dari anak-anak elite Korea Utara memiliki hobi mahal, seperti piknik naik pesawat hingga berkuda. Satu ciri lain yang membedakan adalah mereka memiliki hewan peliharaan.

Tak sembarang orang bisa memelihara anjing ras di Korea Utara. Biasanya, anjing-anjing ini didatangkan secara impor dengan prosedur yang sulit dan ketat serta harga yang sangat mahal. Tak heran, hanya kaum elitelah yang bisa memelihara anjing ras, hingga kemudian dianggap sebagai salah satu simbol kelas atas di Korea Utara.

Simak video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Tak boleh mencolok

Meski punya uang berlimpah, anak orang kaya di Korea Utara tetap tidak diperbolehkan untuk memiliki penampilan yang mencolok. Mereka harus tetap mengikuti aturan pakaian serta gaya rambut yang ditetapkan pemerintah.

Namun, hal ini tidak menahan mereka untuk tetap memperlihatkan status tingginya di masyarakat. Lee Hyeonuseo, seorang pembelot Korea Utara yang dahulu sempat menikmati gaya hidup ini mengungkapkan rahasia gaya hidup dari kaum elite tersebut. Ia menuturkan, satu cara yang dilakukan kaum elite untuk pamer penampilan adalah dengan rutin pergi ke pusat kebugaran demi mendapat bentuk tubuh yang diinginkan.

Kemunculan gelombang orang kaya baru di Korea Utara ini dimulai pada 2002. Akademisi US-Korea Institute di Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Michael Madden, menuturkan, hal ini dipicu pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan memperbolehkan warga negara Korea Utara berdagang dan berbisnis.

Sebagian besar orang kaya baru ini merupakan mereka yang memiliki hubungan baik dengan rezim pemerintahan Kim Jong-un. Mereka juga diperbolehkan untuk berbisnis asalkan membayar uang suap pada pihak pemerintah.

"Orang kaya Korut ini memang ada yang kaya dari hasil usaha sendiri, tetapi kebanyakan dari mereka terlibat korupsi bersama para pejabat tinggi Korea Utara. Kita menganggap ini sebagai tindakan korupsi, tapi inilah cara mereka berbisnis di sana. Di Korea Utara, kalau kamu tidak menyogok pejabat, entah dalam bentuk barang atau uang, maka kamu tidak akan bisa berbisnis," tutur Madden.

Lanjutkan Membaca ↓