Benarkah Daya Beli Masyarakat RI Turun?

Oleh Fiki Ariyanti pada 29 Jul 2017, 20:00 WIB
Diperbarui 29 Jul 2017, 20:00 WIB
Rhenald Kasali Bahas Digital Disruption di Rakornas II Pariwisata
Perbesar
Rhenald Kasali menularkan knowledge-nya soal digital disruption yang bakal menggoyang kemapanan industri pariwisata.
Liputan6.com, Jakarta
Pengusaha ritel 'berteriak' jika terjadi penurunan daya beli masyarakat yang berdampak terhadap penjualan. Pertumbuhan industri ritel di tahun ini diperkirakan anjlok ke kisaran 5 persen-6 persen dibanding periode 2016.
 
Benarkah kondisi daya beli masyarakat Indonesia saat ini benar-benar sedang melorot? 
 
Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali dalam laporannya mengakui jika beberapa pengusaha mengeluhkan daya beli masyarakat yang menurun. Kondisi ini ditunjukkan dari penjualan sepeda motor dan semen yang masing-masing turun sebesar 13,1 persen dan 1 persen sepanjang semester I-2017. 
 
 
"Tapi selama mudik Lebaran ini, penumpang yang terbang dari 13 bandara yang dikelola Angkasa Pura II naik sekitar 11 persen, dan kenaikan 25 persen penumpang di Bandara Halim Perdanakusuma," jelasnya kepada Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (29/7/2017). 
 
Rhenald menyoroti data sektor konvensional tutupnya 7-Eleven, supermarket-supermarket besar yang tengah sulit menghadapi perbaikan distribusi oleh produsen besar sampai sepinya perdagangan di Harco Glodok, Mangga Dua, bahkan Pasar Tanah Abang, serta Electronic City yang dulu ramai.  
  
Namun di sisi lain, pihaknya juga mengecek data di sektor non konvensional, di mana perusahaan-perusahaan start up di bidang fintech dan ritel justru mendulang untung besar atau mengalami kenaikan penjualan. 
 
Data-data perputaran uang dalam bisnis non konvensional, di bidang logistik yang biasa disebut di situs-situs belanja online, semisal JNE atau JNT yang mencatatkan pengiriman barang sangat signifikan.
 
"Yang mengagetkan saya adalah perubahan pola penyaluran barang dan sentra pengiriman. Harus diakui shifting (pergeseran) yang tengah terjadi (konvensional ke non konvensional) sangat berdampak pada semua pemain lama," Rhenald menerangkan. 
 
Kata Rhenald, lihat saja komoditi beras dan bahan-bahan pokok yang dibeli para pedagang dan konsumen di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi berasal dari toko online, seperti Tokopedia dan Bukalapak. 
 
"Barang-barang pangan ini bukan lagi diambil dari sentra-sentra konvensional yang selama ini kita kenal. Petanya telah berubah. Perbaikan jalan tol, tol laut, pelabuhan, dan bandara baru telah membuat rezeki beralih dari pedagang besar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya ke berbagai daerah. Dari pengusaha besar ke ekonomi kerakyatan," terangnya. 
 
Fenomena disruption atau arus perubahan, diakui Rhenald masih sulit dipahami para incumbents yang telah bertahun-tahun menjadi 'pengusaha dalam bisnisnya masing-masing. Karena faktanya dunia konvensional cepat atau lambat akan ditinggalkan konsumen baru, khususnya generasi milenial yang sekarang usianya sudah mendekati 40 tahun.
 
Menurut Rhenald, generasi milenial mempunyai cara pandang yang benar-benar berbeda dengan para incumbents yang telah bertahun-tahun menjadi market leader.
 
Uang (daya beli) mereka memang belum sebesar generasi di atasnya yang lebih mapan, tetapi mereka bisa mendapatkan barang dan jasa yang jauh lebih murah di jalur non-konvensional karena dunia ekonomi yang tengah peristiwa disruptif yang luar biasa. 
 
"Yang turun produsen atau pedagang yang tidak berubah terganggu disruption sehingga terjadi perpindahan. Saya tak mengatakan daya beli telah tumbuh besar-besaran. Saya hanya mengatakan terlalu dini menuding penurunan pendapatan dan penjualan karena daya beli. Daya beli kan tetap atau sedikit naik bagi di bisnis tertentu, dan turun bagi yang kena PHK," tutur Rhenald. 
 
Menteri Perdagangan (Mendag), Enggartiasto mengatakan, memang terjadi pergeseran transaksi perdagangan dari offline ke online. Pemerintah diakuinya, masih kesulitan mendeteksi data transaksi perdagangan online karena sudah merambah pasar luar negeri. 
 
"Karena yang online sudah sampai ke luar negeri susah mendeteksinya. Tapi bukan berarti itu dibiarkan karena persaingan antara offline dan online, ada komplain juga dari APPBI dan Hippindo, mereka terganggu pasar dan pajaknya," tegasnya. 
 
Enggar menambahkan, tidak mudah untuk menghentikan sepak terjang bisnis online. "Ini suatu yang tidak bisa dihentikan. Tapi coba lihat di daerah, mal masih penuh. Tapi memang harus berubah, mal jangan cuma untuk belanja, tapi harus ada entertainment juga di dalamnya," pungkas Enggar.
 
Tonton video menarik berikut ini: