Pasokan AS Turun Angkat Harga Minyak

Oleh Agustina Melani pada 13 Jul 2017, 06:00 WIB
Diperbarui 13 Jul 2017, 06:00 WIB
20151007-Ilustrasi Tambang Minyak
Perbesar
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, New York - Harga minyak menguat seiring pasokan minyak Amerika Serikat (AS) yang menyusut dan permintaan bensin lesu.

Pasokan minyak mentah AS turun 7,6 juta barel pada pekan lalu. Penurunan mingguan itu terbesar dalam 10 bulan. Hal itu berdasarkan data the US Energy Information Administration (EIA). Angka itu sedikit lebih rendah dari yang dilaporkan American Petroleum Institute sebanyak 8,1 juta barel.

Namun pasokan minyak AS berada di atas rata-rata tahunan, sekitar 495,4 juta barel. Selain itu, bensin AS pun turun 1, 6 juta barel.

"Permintaan bensin AS tetap lesu, dan stok bensin masih di atas rata-rata lima tahunan," tutur Abhishek Kumar, Analis Interfax Energy's Global Gas Analytics, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (13/7/2017).

Harga minyak mentah Brent naik 22 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 47,74 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 45 sen atau 1 persen menjadi US$ 45,49. Kenaikan besar pada harga minyak mentah AS ini menekan harga minyak Brent.

Sentimen lainnya yaitu pelaku pasar mencermati pernyataan the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang melihat surplus pada 2018. Ini membebani kenaikan harga minyak.

"Kami masih menghadapi situasi di mana pasokan minyak global dan permintaan yang meningkat," ujar Mark Watkis, Regional Investment Manager US Bank Wealth Management.

Watkis menambahkan, penyeimbangan kembali pasokan dan permintaan minyak cenderung lamban.

OPEC mengatakan, kalau produksi minyak melonjak pada Juni. Negara pengekspor minyak itu juga memperkirakan, kalau permintaan minyak mentah dunia akan turun pada 2018 seiring kenaikan produksi.

Meskipun ada penurunan produksi dari OPEC mendukung harga minyak, kenaikan produksi minyak dari Libya dan Nigeria yang merupakan anggota OPEC telah dorong pasokan lebih tinggi. Libya dan Nigeria merupakan negara yang dibebaskan dari kesepakatan pengurangan produksi.

 

 

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

 

 

Tag Terkait