Kajian Lingkungan Semen Rembang Harus Tuntas

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 25 Mar 2017, 18:36 WIB
Diperbarui 25 Mar 2017, 18:36 WIB
20170317-Pabrik Semen Rembang Siap Beroperasi-Gempur
Perbesar
Pekerja melintasi pintu masuk pabrik PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3). Tahapan pembangunan pabrik semen yang dibangun di atas seluas 57 hektare tersebut telah mencapai 96,63 persen. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah harus melakukan kajian lingkungan yang mendalam terhadap area penambangan batu gamping milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang, Jawa Tengah. Salah satu kajian yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan metode zero run off.

Pakar geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Sulistijo menjelaskan, uji kerusakan lingkungan dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran debit air dalam jangka waktu tertentu baik pada musim hujan dan musim kering. Debit air di suatu wilayah bisa terjadi akibat musim kemarau tetapi juga bisa terjadi akibat aktivitas penambangan.

"Jika penambangan memotong muka air tanah dan air hujan dari lokasi penambangan dibuang keluar. Hal itu disebabkan lahan yang menjadi gundul atau hilangnya vegetasi," jelas dia, Sabtu (25/3/2017). 

Aktifitas penambangan di wilayah tersebut telah dilakukan 18 perusahaan, sedangkan semen Indonesia belum melakukannya. Jika memang debit air berkurang akibat aktivitas penambangan, harus dilihat bagaimana metode penambangan yang dilakukan oleh 18 perusahaan swasta yang kini telah menggarap areal seluas sekitar 250 hektare.

“Ini Semen Indonesia belum melakukan aktivitas penggalian. Kegiatan penggalian kan justru sudah dilakukan oleh 18 perusahaan penambangan swasta yang arealnya dekat dengan areal milik Semen Indonesia,” paparnya.

Budi melanjutkan, metode kajian yang bisa digunakan oleh pemerintah adalah dengan menggunakan cairan garam di areal batu gamping untuk menentukan ke mana air bakal berkumpul di sumber mata air terdekat.

Struktur batu gamping di manapun pasti mempunyai rekahan dan saling berhubungan. Air juga akan mengalir menuju zona jenuh dan jika terpotong oleh topografi bakal menjadi mata air.

Hubungan antara rekahan dengan zona jenuh, akhirnya menjadi sumber mata air yang menjadi hulu, maka di lokasi yang ditetapkan dilakukan pengeboran dimasukkan cairan garam sebanyak 40.000 ppm.

Kemudian pada saat bersamaan diukur daya hantar listrik yang mempunyai korelasi dengan kadar garam. Di beberapa sumber mata air diperiksa mana yang kandungan garamnya meningkat.

"Konsep ini diterapkan untuk mendapatkan desain penambangan yang berwawasan lingkungan dan bagaimana meningkatkan imbuhan air tanah,” jelas Budi.

Terkait dengan penambangan Semen Indonesia, menggunakan konsep air yang keluar dari areal penambangan nol persen atau zero run off sehingga seolah-olah membuat biopori raksasa atau sumur resapan.

Seperti yang dianjurkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( LHK) untuk membuat biopori di setiap rumah dan dibuat sabuk pengaman yang mengelilingi areal tambang, maka debit di sumber mata air bisa menjadi tolok ukur apakah cara penambangan sudah benar atau menyimpang.

“Nah, metode uji air garam tadi nantinya mengontrol apakah teknologi zero run off di areal tambang berhasil menambah debit air di sumber airnya. Itu teknologi paling murah. Supaya kita justru bisa yakin menambah pasokan di sumber mata air tersebut,” ungkapnya. (Pew/Gdn)

Tag Terkait