Atasi Masalah Sampah Plastik, Menko Luhut Berguru ke India 

Oleh Fiki Ariyanti pada 24 Mar 2017, 16:50 WIB
20170316-Kali Gendong Jadi Laut Sampah-Fanani

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, pemerintah sangat serius mengatasi masalah sampah plastik. Luhut sampai menerjunkan tim untuk berguru ke India guna mengelola sampah plastik menjadi sumber listrik sampai campuran aspal untuk badan jalan.

"Sampah plastik kita terjorok setelah China nomor dua. Kalau peringkat kedua ekonomi setelah China sih tidak apa, ini malah sampah plastik, kacau," tegas Luhut saat acara Coffee Morning di kantornya, Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Sampah plastik membawa dampak buruk bagi lingkungan, kesehatan, pariwisata, dan sebagainya. Untuk pariwisata misalnya, Luhut mengaku, turis di Bali sempat protes karena pantai Kuta dipenuhi sampah beberapa waktu lalu. Situasi ini membuat citra negatif bagi pariwisata di Tanah Air.

"Turis jauh-jauh datang ke Bali, sewa hotel sampai US$ 500 per malam, tapi pantainya banyak sampah plastik, ya jelaslah orang marah. Ini bikin bad image buat Indonesia," ujarnya.

Paling penting lagi dampak negatif sampah plastik bagi kesehatan. Luhut menjelaskan, dari hasil penelitian, perut ikan dipenuhi sampah plastik sampai 22 persen, bahkan di California mencapai 64 persen. Penyebabnya 80 persen sampah di laut datang dari darat.

Apabila dikonsumsi manusia akan menimbulkan berbagai macam penyakit kanker dan berpengaruh ke keturunan jika dikonsumsi ibu hamil. "Kalau ini dibiarkan terus menerus dan tidak ditangani dengan baik, 200-300 tahun lagi, hidung bisa ke belakang karena berpengaruh ke genetik," kata Luhut.

Oleh karena itu, dia mengaku, Kemenko Bidang Kemaritiman mengirim tim untuk belajar pengelolaan sampah plastik ke India. Luhut memuji cara India menangani sampah plastik yang diolah menjadi campuran aspal untuk badan jalan.

"India luar biasa sekali, sudah bisa mengolah sampah plastik sejak 2002 dibikin jadi bagian jalan. Kekuatannya minimal enam tahun dan maksimal 15 tahun tidak rusak. Kita juga kerja sama dengan pemerintah Denmark dan Swedia untuk mengolah sampah plastik jadi sumber listrik," pungkas Luhut. (Fik/Gdn)

60 Penerbangan Batal karena Tiket Mahal

Tutup Video