Bayar Tol Pakai Uang Elektronik, Bagaimana Nasib Petugas Tol?

Oleh Fiki Ariyanti pada 22 Mar 2017, 08:31 WIB
Diperbarui 22 Mar 2017, 08:31 WIB
Bayar Tol Tak Bisa Pakai Uang Tunai Mulai Tahun Ini
Perbesar
Suasana arus lalu lintas di area gerbang tol Semanggi 2, Jakarta, Selasa (14/3). Pembayaran gerbang tol nontunai atau secara elektronik tersebut ditergatkan rampung pada akhir 2017. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Seluruh gerbang tol akan melayani transaksi pembayaran non tunai pada 2017. Itu artinya, penetrasi penggunaan uang elektronik di jalan tol mencapai 100 persen. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap nasib para petugas tol karena tidak ada lagi transaksi tunai.

"Jalan tol ditargetkan menggunakan uang elektronik, all electronic toll hingga akhir 2017. Berlaku seluruh gerbang tol," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Herry lebih lanjut menuturkan, efisiensi atau pengurangan pegawai dari kebijakan tersebut pasti terjadi. Alasannya karena tugas dari si petugas tol akan berkurang dan tergantikan dengan mesin tap atau EDC.

"Mungkin ada pengurangan (karyawan) tapi itu tugas perusahaan lah, kan kebutuhan proses bisnis berubah dan bisa ditugaskan ke tempat lain jadi dampak pengurangan bisa diminimalisir, bahkan kalau perlu tidak terjadi," dia menjelaskan.

Sementara jika sudah masuk pada tahapan pembayaran tanpa henti (multilane free flow) di gerbang tol, kata Herry, barulah memungkinkan terjadinya pengurangan petugas tol. "Kalau multilane, baru semua tanpa petugas. Ya nanti kan diprogramkan perusahaan," Herry menuturkan.

Sebelumnya, Herry juga menjelaskan bahwa pemerintah, BUJT dan Bank Indonesia (BI) membuka peluang integrasi pembayaran tol non tunai kepada seluruh bank yang menerbitkan e-money. Dengan demikian, satu mesin (electronic data capture) EDC di gardu tol bisa di tap pengguna multibank.

"Satu mesin bisa di tap uang elektronik perbankan mana saja. Uang elektroniknya bisa digunakan untuk moda transportasi lain, seperti busway, tidak harus beli kartu e-toll sehingga memudahkan dan membuat nyaman pengguna. Cuma uang elektronik ya, debet belum bisa," dia menerangkan.

Penggunaan uang elektronik secara menyeluruh dan bertahap hingga akhir tahun ini. Diakuinya, penetrasi penggunaan non tunai di gerbang tol seluruh Indonesia baru 23 persen. Rata-rata di ruas tol Jabodetabek menjangkau 25 persen, bahkan di ruas tertentu yang tertinggi 34 persen.

"Penetrasi ini harus makin meningkat menuju 100 persen, seperti naik commuter line kan sudah elektronik semua. Kita dorong dan memberi perhatian lebih di ruas Jabodetabek karena volume transaksi tol besar," tegas Herry.

Investasi penggunaan uang elektronik di jalan tol secara penuh 100 persen dilakukan pihak perbankan dan badan usaha. "Di tol Cikopo misalnya ada BCA, badan usaha yang menginvestasikan alatnya. Kalau kartu dari perbankan ya, nilanya tidak sampai triliunan rupiah lah. Syarat beroperasinya jalan tol kan harus bangun gerbang tolnya juga, jadi tidak ada masalah dari sisi biaya," tukas Herry. (Fik/Gdn)