Bayar Tol Tak Bisa Tunai, Ini Tanggapan Bos Jasa Marga

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 14 Mar 2017, 10:45 WIB
Diperbarui 14 Mar 2017, 10:45 WIB
20150714-Mudik Lebaran-Tol Cipali3
Perbesar
Petugas Kepolisian saat mengatur kendaraan yang masuk ke gerbang Tol Palimanan, Jawa Barat, Selasa (14/7/2015). Hingga H-3 jelang lebaran 2015 pemudik sudah mulai memadati tol Cipali. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) akan menerapkan pembayaran non-tunai di seluruh [gerbang tol]( 2884260 ""). Pelaksanaannya berlangsung secara bertahap hingga 100 persen pada tahun ini.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk (JSMR) Desi Arryani, selaku operator jalan tol mengatakan, semua gerbang tol saat ini sudah bisa menggunakan pembayaran elektronik khususnya kartu dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Tak hanya gerbang tol otomatis (GTO) tapi juga gardu manual.

"Saat ini e-toll Himbara sudah berjalan untuk semua gerbang, jadi tidak hanya Mandiri, tapi juga BNI, BRI dan BTN. Semua gardu bisa memakai e-toll Himbara. Tidak hanya di GTO tapi juga di gardu manual. Yang perlu didorong adalah utilisasi e-toll yang masih 28 persen," kata dia kepada Liputan6.com, Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Kepala BPJT Herry TZ mengungkapkan, pihaknya bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), Bank Indonesia (BI), dan perbankan sedang bekerja mendukung gerakan nontunai yang diinisiasi BI. Salah satunya meningkatkan transaksi pembayaran nontunai alias elektronik di jalan tol.

"Kami ingin meningkatkan penetrasi penggunaan transaksi pembayaran nontunai atau elektronik di semua gerbang tol di seluruh Indonesia. Kita lagi bekerja untuk mewujudkan cashless society di jalan tol tahun ini," ujar dia.

Herry menjelaskan, saat ini penetrasi penggunaan transaksi pembayaran elektronik di gerbang tol baru mencapai 23 persen. Targetnya 100 persen di 2017.

"Nanti akan meningkat, kan sekarang 23 persen, kemudian naik jadi 30 persen-40 persen. Harapannya bisa 100 persen di 2017," dia menuturkan.

Menurut Herry, tujuan transaksi nontunai adalah untuk memangkas waktu antrean kendaraan di gerbang tol, sehingga lebih efisien. Nantinya, seluruh gerbang tol dapat melayani transaksi pembayaran elektronik dari semua bank, bukan hanya bank badan usaha milik negara (BUMN) saja.

"Alasannya supaya lebih efisien, makanya nanti nasabah semua bank bisa bayar tol nontunai di gerbang tol, tidak cuma bank BUMN saja," jelas dia.

"Sekarang kita sedang bekerja keras mengubah dari 23 persen menjadi 100 persen karena sejak Februari lalu, semua peralatan di gerbang tol sudah bisa melayani non-tunai. Ini adalah tantangan, sehingga pada waktunya nanti transaksi di tol ya begini. Nontunai jadi harus dipaksakan atau mandatori," ucap Herry.