Ada di Bawah Tanah, Masjid dan Gereja Freeport Cetak Rekor MURI

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 09 Jan 2017, 18:30 WIB
Diperbarui 09 Jan 2017, 18:30 WIB
Freeport Indonesia (AFP Photo)
Perbesar
Freeport Indonesia (AFP Photo)

Liputan6.com, Jakarta ‎Masjid dan Gereja yang berada di kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia, di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, mendapat Piagam Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Rekor tersebut diberikan karena letaknya yang tidak lazim.

Presiden Direktur Freeport Indonesia Chappy Hakim mengatakan, piagam MURI yang diterima oleh PTFI kali ini adalah penghargaan untuk dua rekor dunia baru, yaitu Masjid dan Gereja dengan lokasi terdalam dari permukaan tanah 1.700 meter di bawah permukaan tanah.

Rekor yang diberikan berikutnya adalah masjid yang terletak di elevasi tertinggi 3.730 meter di atas permukaan laut, dan rekor perusahaan tambang dengan program pengembangan dan pelatihan terlengkap bagi masyarakat lokal.

"Tiga rumah ibadah ini kami bangun sebagai bentuk nyata komitmen PTFI untuk menyediakan fasilitas pendukung bagi para karyawan di seluruh lokasi kerja mereka. Sebanyak lebih dari 95 persen dari 32 ribu karyawan PTFI adalah putra putri bangsa yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia," kata Chappy, di Jakarta, Senin (9/1/2017).

Rumah ibadah yang berada di dalam permukaan tanah 1.700 meter tersebut adalah ‎Masjid Munawwar dan Gereja Oikumene Soteria yang berdiri berdampingan satu sama lain. Terletak di titik terdalam dari permukaan tanah di kompleks tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia. Sementara, Masjid Al A’Raaf dengan elevasi tertinggi terletak di area tambang terbuka Grasberg, PT Freeport Indonesia.

Sementara rekor merupakan apresiasi terhadap komitmen PTFI dalam mendukung pengembangan masyarakat Papua. Bentuk nyata dari komitmen tersebut antara lain adalah hingga saat ini tercatat 11.704 materi pelatihan dan kompetensi di PTFI untuk masyarakat lokal, mulai dari program literasi, administrasi, pelatihan komputer, perawatan mekanis, perawatan listrik, bahasa, kepemimpinan, hingga keselamatan dan lingkungan.

"Selain itu PTFI juga melakukan pengembangan kompetensi bagi karyawan dan peserta pemagangan di Institut Pertambangan Nemangkawi yang dibangun PTFI sejak tahun 2003," tutup Chappy.