RI Bangkitkan Listrik Energi Baru 8.700 MW Sepanjang 2016

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 21 Des 2016, 14:12 WIB
Diperbarui 21 Des 2016, 14:12 WIB
20160330- Progres Pembangun PLTP Unit 5 & 6 di Tompaso-Sulut-Faizal fanani
Perbesar
Suasana pembangunan PLTP Unit 5 & 6 di Tompaso, Sulut, Rabu (30/3/2016). PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) terus mengembangkan energi baru terbarukan yang berfokus pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sepanjang 2016, tambahan energi listrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 8700 Mega Watt (MW). Tambahan terbesar berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP).

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, ‎pengembangan EBT terus dilakukan sepanjang tahun 2016 yang mencapai 15 persen dari keseluruhan kapasitas listrik terpasang 58 ribu MW.

"Dalam 10 tahun ke depan, berdasarkan rencana umum energi nasional, Indonesia berencana diproyeksikan membutuhkan kapasitas terpasang hingga 135 GW dengan 45 GW 33 persen dari pembangkit EBT," kata Jonan, dalam diskusi akhir tahun EBTKE, di kawasan Kuningan Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Penambahan kapasitas listrik dari EBT didapat dari beberapa jenis pembangkit, salah satunya PLTP Kapasitas terpasang PLTP hingga Desember 2016 adalah sebesar 1.643,5 MW.‎

Di samping PLTP, juga dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan kapasitas total 282,55 MW pada 2016.

Untuk kapasitas terpasang PLT Bioenergi pada 2015 sebesar 1.767,1 MW , meningkat sebesar 20,8 MW pada tahun 2016 dengan kapasitas total terpasang sebesar 1.787,9 MW.

"Kementerian ESDM menargetkan kapasitas total terpasang PLT Bioenergi pada tahun 2017 mencapai 2.093 MW atau bertambah 305,1 MW," tutur Jonan.

Kondisi energi nasional saat ini, 94 persen berasal dari fosil yang semakin berkurang keberadaannya dan juga terbukti sebagai faktor penting terjadinya perubahan iklim. Karena itu Pemerintah ingin mendorong pengembangan EBT dan Konservasi Energi dalam bentuk peningkatan efisiensi penggunaan energi baik di sisi penyediaan maupun di sisi kebutuhan, sektor industri, transportasi, rumah tangga dan komersial.

Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Berdasarkan arahan dari Presiden Joko Widodo pada saat mengikuti Conference of Parties (COP) ke-21 tahun 2015 di Paris dan hasil COP ke-22 di Maroko, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri dan dapat ditingkatkan menjadi 41 persen dengan bantuan internasional. Hingga akhir 2016, penurunan emisi CO2 telah berhasil dilakukan sebesar 39.3 Juta Ton. Target 2017, emisi CO2 akan diturunkan sebesar 45.1 Juta Ton.

“Pemerintah tetap berkomitmen terhadap penurunan emisi CO2 tetapi dengan harga yang terjangkau. Kita mengarah ke harga yang paling murah. Isunya adalah keterjangkauan. Sekali lagi kami sampaikan bahwa kami mendukung bauran energi, energi baru dan terbarukan at the least cost, agar semakin kompetitif,” tutup Jonan. (Pew/Gdn)