Harga Minyak Naik Tipis, Kesepakatan OPEC Masih Jadi Pendorong

Oleh Arthur Gideon pada 21 Des 2016, 06:12 WIB
Diperbarui 21 Des 2016, 06:12 WIB

Liputan6.com, New York - Harga minyak naik tipis pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pemotongan produksi beberapa negara masih menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak.

Mengutip Wall Street Journal, Rabu (21/12/2016), harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Januari ditutup naik 11 sen atau 0,2 persen ke angka US$ 52,23 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan harga minyak Brent, yang merupakan patokan global, naik 43 sen atau 0,8 persen ke angka US$ 55,35 per barel di ICE Futures Europe.

Organisasi negara-negara pengekspor minyak atau The Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) pada bulan lalu setuju untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari. Nilai tersebut setara dengan kurang lebih 1 persen dari pasokan global.

Beberapa negara lain yang berada di luar organisasi seperti Rusia dan Iran, mendukung langkah yang dilakukan oleh OPEC tersebut. Rusia dan beberapa negara lain di luar OPEC setuju untuk mengurangi prosuksi sekitar 558 ribu barel per hari.

Presiden Ritterbusch Associates Jim Ritterbusch memperkirakan, harga minyak light sweet akan berada di atas US4 56 per barel dan Brent akan berada di US$ 59 per barel di awal januari nanti. Sedangkan untuk saat ini, harga minyak akan berada di kisaran US$ 51 per barel hingga US$ 53 per barel.

"Seluruh pasar merespons kesepakatan pada bulan lalu dengan positif sehingga pasar bergerak menguat. Memang ada beberapa sentimen negatif tapi tak terlalu besar pengaruhnya," jelas dia.

Beberapa ketakutan analis saat ini adalah beberapa negara tidak patuh dengan apa yang telah disepakati. Jika hal tersebut terjadi, besar kemungkinan harga minyak akan kembali jatuh ke bawah US$ 50 per barel seperti sebelum adanya kesepakatan. (Gdn/Ndw)