Sri Mulyani: Nama Gayus Tambunan Lebih Ngetop dari Dirjen Pajak

Oleh Septian Deny pada 08 Nov 2016, 22:33 WIB
Diperbarui 08 Nov 2016, 22:33 WIB
Gayus Tambunan Sempat Menjadi 'Tokoh Inspiratif' Indonesia
Perbesar
Dulu Indonesia sempat dilanda demam Gayus Tambunan dan dia menginspirasi beberapa hal ini.

Liputan6.com, Jakarta Masih ingat kasus Gayus Tambunan? Kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh Gayus telah mencoreng nama baik Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Adanya kasus ini berdampak pada lunturnya kepercayaan para wajib pajak terhadap salah satu direktorat di lingkungan Kementerian Keuangan tersebut.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, dampak dari mencuatnya kasus tersebut masih dirasakan hingga saat ini oleh para pegawai DJP‎. Selain membentuk persepsi yang buruk terhadap kinerja DJP, kasus ini menjadi alasan bagi masyarakat sebagai wajib pajak untuk tidak memenuhi kewajiban pajaknya.

"Kalau orang ingat ada satu nama yang lebih ngetop dari DJP yaitu Gayus. Ini merupakan suatu PR buat kami. Karena masyarakat punya persepsi dan ada masalah dengan trust. Maka dia menjadi salah satu excuse untuk tidak melakukan compliance," ujar dia dalam Dialog Perpajakan bersama Menteri Keuangan RI di Jakarta, Selasa (8/11/2016).

Adanya kasus-kasus semacam ini, lanjut Sri Mulyani, membuat masyarakat semakin enggan untuk‎ membayar pajak. Atau jika pun membayar pajak, hanya sekedarnya saja.

"Jadi itu memang berbagai macam anekdot yang menjelaskan dan menjadi excuse kenapa wajib pajak merasa membayar pajak itu sesuatu yang bisa sekadarnya. Kalau membayar pajak sekadarnya, jangan heran republik ini jadi republik sekadarnya. Guru ngajar sekadarnya gajinya sekadarnya. Prajurit, militer polisi sekadarnya. Aparat pajaknya juga jalan sekadarnya, sehingga republik ini tidak menjadi republik yang respect," tuturnya.

Oleh sebab itu, sejak dipercaya kembali menjadi Menteri Keuangan di era Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, dirinya bertekad untuk memperbaiki persepsi buruk masyarakat terhadap kinerja DJP.

"Dan ini buat saya tidak ringan. Bagaimana saya memulai hubungan baru kalau kedua belah pihak terlalu banyak catatan," tandas dia.