Bappenas: RI Berpotensi Ekspor Listrik ke Malaysia dan Singapura

Oleh Fiki Ariyanti pada 03 Nov 2016, 21:04 WIB
Diperbarui 03 Nov 2016, 21:04 WIB
Bila target rasio elektrifikasi di Sumatera telah mencapai 100 persen, maka potensi ekspor listrik terbuka lebar ke negara tetangga.
Perbesar
Bila target rasio elektrifikasi di Sumatera telah mencapai 100 persen, maka potensi ekspor listrik terbuka lebar ke negara tetangga.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas melihat potensi ekspor listrik oleh Indonesia ke negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Peluang ekspor setrum ini terbuka lebar bila rasio elektrifikasi sudah mencapai 100 persen di seluruh wilayah Indonesia.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro saat Konferensi Pers Indonesia Infrastructure Week (II) 2016, mengatakan, selama ini masing-masing negara terjebak pada pemikiran bahwa persoalan listrik menjadi tanggungjawab negara tersebut.

"Negara anggota ASEAN yang kesulitan sumber listrik ya itu tanggungjawab mereka sendiri, padahal seharusnya perlu ada jaringan listrik apakah itu di Kalimantan atau menggunakan kabel bawah laut yang menghubungkan Kalimantan ke Malaysia atau Singapura," ujarnya di kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Menurut Bambang, bila target rasio elektrifikasi di Sumatera misalnya telah mencapai 100 persen, maka potensi ekspor listrik terbuka lebar ke negara tetangga. Namun harus dipastikan juga ketersediaan listrik di seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau elektrifikasi di Sumatera sudah 100 persen, kita berpotensi ekspor listrik dari Sumatera ke Malaysia atau Singapura. Itu peluang bisnis bagus," terang Bambang.

Oleh sebab itu, percepatan pembangunan infrastruktur kelistrikan, program 35 ribu Megawatt (Mw) menjadi salah satu proyek yang ditawarkan pemerintah kepada calon investor di acara ASEAN G28 Infrastructure Investment Forum dan Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2016.

Untuk diketahui, pemerintah serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyelengarakan pameran infrastruktur, terdiri dari ASEAN G28 Infrastructure Investment Forum dan Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2016. Dalam event tersebut, ada 350 proyek infrastruktur strategis yang akan ditawarkan kepada ribuan calon investor dari 35 negara.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengungkapkan, Indonesia membutuhkan pendanaan infrastruktur sebesar Rp 5.500 triliun dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Sayangnya, hanya sepertiga yang dapat dipenuhi dari APBN dan APBD, sehingga butuh partisipasi pendanaan dari BUMN maupun swasta.

"Ada 350 proyek yang ditawarkan dan akan di-display di pameran infrastruktur," ujar Rosan saat Konferensi Pers di kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Proyek strategis tersebut, lanjutnya, akan ditawarkan pada 18 ribu pengunjung atau calon investor yang sudah teregistrasi hadir di acara tersebut. Jumlah ini terus bertambah dari sebelumnya yang masih tercatat sebanyak 16 ribu orang. 

"Tahun lalu yang terdaftar hanya 12 ribu pengunjung. Tapi untuk pameran infrastruktur tahun ini sudah ada 18 ribu pengunjung dari sebelumnya masih 16 ribu orang," Rosan menerangkan. (Fik/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya