Harga Batu Bara Anjlok Tekan Pendapatan Kalteng

Oleh Liputan6 pada 26 Okt 2016, 10:55 WIB
Diperbarui 26 Okt 2016, 10:55 WIB
Batu Bara
Perbesar
(ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Liputan6.com, Jakarta - Harga batu bara dunia yang merosot berdampak ke ekonomi di Kalimantan Tengah (Kalteng). Apalagi Kalimantan Tengah mengandalkan penerimaan asli daerah (PAD) dari sektor sumber daya alam (SDA) termasuk batu bara.

Ratusan perusahaan batu bara yang selama ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) untuk menjalankan kegiatan perusahaan mulai berkurang penggunaannya. Hal itu juga berdampak ke penerimaan daerah di sektor minyak dan gas (migas).

Kepala Dinas Pendapatan Kalteng Jaya Saputra menyebutkan, dari data Dinas Pendapatan Daerah(Dispenda) Kalteng, realisasi penerimaan daerah dari sektor migas turun dari Rp 241 miliar pada periode 2011-2015 menjadi Rp 226 miliar pada periode 2016.

"Pengguna BBM industri hampir 60 persen-70 persen adalah perusahaan pertambangan. Otomatis dengan banyaknya perusahaan tambang yang tutup menyebabkan penerimaan bahan bakar juga turun," ujar dia di Palangkaraya, Rabu (26/10/2016).

Ia menuturkan, realisasi  penerimaan pajak bahan bakar periode 2011-2016 sebanyak Rp 241 miliar (771 juta liter). Hingga Desember 2016, penerimaannya diperkirakan mencapai Rp 226 miliar untuk penggunaan BBM 707 juta liter.

Berdasarkan data Dispenda Kalteng, jumlah penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menunjukkan ada penurunan dari 2012. Tercatat penggunaan BBM mencapai 921 juta liter pada 2012, kemudian meningkat menjadi 1.055 juta liter pada 2012, dan menurun menjadi 993 juta liter pada 2014. Penggunaan BBM pun terus menurun menjadi 905 juta liter pada 2015, dan 707 juta liter pada 2016. (Rajana K)