Bos Pertamina: Kami Di-bully Gara-gara Harga Avtur

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 28 Agu 2016, 18:30 WIB
Diperbarui 28 Agu 2016, 18:30 WIB
20151211-Avtur Pertamina
Perbesar
(Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto angkat bicara soal lebih mahalnya harga avtur di Indonesia ketimbang Singapura. Karena hal itu juga, Pertamina di-bully banyak pihak.

Dwi mengatakan, untuk memasok avtur ke Bandara Soekarno Hatta yang dekat dari Jakarta, Pertamina harus mendatangkan dari fasilitas pengolahan minyak (kilang) Cilacap, yang menciptakan adanya biaya pengiriman, ditambah pengenaan pajak dan retribusi. Komponen itu menambah pembentukan harga dari harga avtur.

"Kalau avtur untuk Soetta harus dibawa begitu jauh, sekarang dicampur dengan impor, dan belum lagi ongkos transport," ‎kata Dwi, di Maumere, Nusa Tenggara Timur, Minggu (28/8/2016).

Pertamina tidak hanya menyalurkan avtur di bandara besar ‎wilayah perkotaan saja, tetapi juga bandara di wilayah terpencil yang ongkos angkutnya lebih mahal dari perkotaan. Kondisi ini membuat Pertamina putar otak agar harga avtur di bandara wilayah terpencil bisa lebih murah.

Sedangkan di Singapura, letak kilang berdekatan dengan bandara, avtur dari kilang disalurkan lewat pipa. Sistem perpajakan dan retribusinya pun jauh lebih ringan, kondisi tersebut membuat harga avtur lebih murah.

"Misal harga avtur di Singapura, kilangnya dekat airport dikirim pakai pipa dan sistem perpajakan berbeda," terang Dwi.

Menurut Dwi, meski harga avtur Indonesia lebih mahal ketimbang Singapura, jika dibandingkan negara lain harga avtur Indonesia masih jauh lebih murah.

"Ini Pertamina di-bully mengenai harga avtur, padahal dengan Singapura saja lebih tinggi, dengan airport lain lebih rendah, tapi kami akan terus efisiensi," tutup Dwi.