AS Minat Bangun Fasilitas Produksi Lokomotif di Indonesia

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 03 Jul 2016, 19:10 WIB
Diperbarui 03 Jul 2016, 19:10 WIB
20151221-KA-Jakarta-Kota--Tanjung-Priok-YR
Perbesar
PT Kereta Api Indonesia (KAI) kembali mengoperasikan lintas Jakarta Kota-Tanjung Priok, Jakarta, Senin (21/12). Pengoperasian rute akan difasilitasi oleh commuter line yang dioperasikan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan asal Amerika Serikat/AS berminat membangun fasilitas produksi lokomotif di Indonesia. Hal tersebut merupakan hasil dari‎ Kunjungan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani untuk memasarkan potensi investasi yang baru di AS.

Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan pertemuan yang dilakukan dengan perusahaan tersebut merupakan sinyal positif terhadap rencana strategis perusahaan terhadap operasionalnya di Indonesia.

Menurut Franky, kerjasama perusahaan rel kereta AS dengan BUMN kereta api di Indonesia tersebut tentu positif dalam upaya untuk meningkatkan investasi dari Amerika Serikat.

”Masuknya investor sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan berbagai sarana transportasi termasuk kereta api,” lanjutnya.
 
Franky menilai ketersediaan rel kereta api sebagai sarana infrastruktur transportasi akan berdampak positif pada sektor-sektor investasi lainnya.

”Dampaknya sangat signifikan karena ini akan membantu kelancaran arus barang dan penumpang di daerah-daerah yang dilewati oleh jalur kereta api tersebut,” sebutnya.

Rencana investasi tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan perusahaan pada hari Rabu tanggal 29 Juni 2016 di Chicago, Amerika Serikat.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 25 peserta yang terdiri dari perusahaan di bidang farmasi, pertambangan, produk rumah tangga, transportasi, ketenagalistrikan dan asosiasi bisnis. Pada kesempatan tersebut Franky menyampaikan presentasi terkait kebijakan pemerintah dalam rangka mendorong investasi yang terdiri dari pembangunan infrastruktur yang masif dan kebijakan deregulasi untuk kemudahan investasi.

Amerika Serikat tergolong negara prioritas pemasaran investasi, dari data yang dimiliki oleh BKPM pada 2015, nilai realisasi investasi AS mencapai US$ 893 juta terdiri dari 261 proyek dengan didominasi oleh sektor-sektor pertambangan. Dari sisi komitmen, tercatat masuknya komitmen US$ 4,8 miliar terdiri dari 76 proyek.

Untuk diketahui, BKPM pada 2016 menargetkan capaian realisasi investasi bisa tumbuh 14,4 persen dari target 2015 atau mencapai Rp 594,8 triliun. Realisasi ini dikontribusi dari PMA sebesar Rp 386,4 triliun atau naik 12,6 persen dari target PMA tahun lalu, serta dari PMDN sebesar Rp 208,4 triliun naik 18,4 persen dari target PMDN tahun lalu. Untuk mencapai target tersebut, BKPM pada menetapkan 10 negara prioritas termasuk di antaranya Amerika Serikat, Australia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, RRT, Timur Tengah, Malaysia, dan Inggris.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya