Ini Hobi yang Bisa Bikin Kantong Tebal

Oleh Agustina Melani pada 02 Apr 2016, 19:30 WIB
Diperbarui 02 Apr 2016, 19:30 WIB
20151207-Sambut Natal dan Tahun Baru, Star Wars Hadir di Senayan City
Perbesar
Replika mainan bertema Star Wars dipamerkan juga dalam wahana dunia petualangan intergalaksi 'Star Wars: The Force Awekens', Jakarta, (7/12). Wahana berlangsung hingga 10 Januari 2016. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Sewaktu kecil, kita semua pasti hobi mengumpulkan mainan atau senang mengoleksi sesuatu. Sayangnya saat besar, kita seringkali kehilangan koleksi kita. Entah karena alasan bosan, sudah besar sehingga diberikan ke saudara yang masih kecil, atau rusak karena tidak dirawat.

Padahal, jika Anda tetap mempertahankan koleksimu, benda-benda tersebut bisa mendatangkan keuntungan. Kok bisa? Kalau termasuk barang langka atau limited edition dan masih dalam kondisi bagus,  koleksimu ini bisa membuatmu kaya mendadak jika dijual pada kolektor.

Nah, coba bongkar gudang di rumah. Siapa tahu Anda menemukan benda-benda dari masa kecilmu seperti berikut, seperti dikutip dari www.cekaja.com, Sabtu (2/4/2016):

1. Hobi Mengoleksi action figure

Waktu kecil, Anda pasti punya tokoh idola. Tokoh idola anak kecil biasanya seorang jagoan alias superhero. Mainan action figure yang sewaktu kecil harganya tidak seberapa, ternyata bisa membuatmu punya mobil baru jika dijual di zaman sekarang.

Misalnya, kalau Anda punya action figure Anakin Skywalker dari Star Wars dengan kondisi masih terawat, sekarang action figure tersebut sangat dicari-cari kolektor mainan Star Wars dan bisa dihargai hingga US$ 3.400 atau sekitar Rp 44,3 juta (asumsi kurs Rp 13.168 per dolar AS).

Skywalker tadi belum seberapa. Ada lagi yang lebih fantastis karena harganya sampai menembus angka US$ 200 ribu. 


Nah kalau yang ini, bukan hanya mobil, Anda juga bisa beli rumah. Action figure G.I. Joe bertema militer ini memiliki ukuran 11,5 inci dan 21 bagian yang dapat digerakkan. Action figure G.I. Joe dibuat pada tahun 1963 dan merupakan action figure G.I. Joe pertama di dunia.

Karena pencinta action figure sangat peduli pada detail, tentunya Anda harus benar-benar merawat koleksi action figure milikmu agar bisa dijual dengan harga tinggi. Ada lecet sedikit saja atau warna aslinya pudar bisa langsung menurunkan harga jual.

Oleh karena itu, ada aturan supaya action figure tetap terjaga kualitasnya. Misalnya dengan tidak menaruhnya di tempat yang terkena matahari langsung, menyimpan di kotak khusus, dan rajin dibersihkan setiap seminggu sekali.

2. Hobi mengoleksi prangko

Siapa bilang mengoleksi prangko itu kuno? Banyak hal positif yang bisa Anda dapatkan lewat hobi satu ini. Di antaranya kesabaran, ketekunan, dan kehati-hatian. Mengoleksi prangko juga  bisa membuatmu kaya, itu pun kalau Anda mau melelangnya.

Salah satu prangko termahal di dunia adalah ‘The Penny Black’ sebagai prangko kertas pertama di dunia yang dibuat oleh Inggris. Pria yang mencetuskan ide ini, Rowland Hill, kini dikenal sebagai bapak prangko dunia. Prangko ini berwarna hitam putih dengan profil Ratu Victoria.

Pertama kali diterbitkan pada 1840, prangko kemudian ditarik dari peredaran setahun kemudian. Kini prangko ini sangat diburu oleh kolektor dan dihargai US$ 3.000. Harganya pun semakin mahal setiap tahunnya.

Kalau nenekmu punya hobi mengoleksi prangko, coba buka-buka album prangkonya. Siapa tahu ada prangko zaman perang yang bernilai. Sebelum melelang, jangan lupa minta izin pada nenekmu ya!

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

3. Koleksi buku

Nah, orangtua kita pasti sangat gencar membiasakan supaya anaknya membaca buku. Kalau Anda menyimpan edisi pertama buku Harry Potter and the Philosopher’s Stone karya J.K. Rowling, buku tersebut dihargai hingga US$ 18.000 atau sekitar Rp 234 juta di sebuah pelelangan pada 2007.

Ini membuktikan investasi dalam bentuk buku tidak harus berupa buku antik dan kuno. Edisi pertama atau buku yang ditandatangi pengarang juga bernilai di mata kolektor.

Di dalam negeri, buku-buku terbitan lama sangat diburu oleh kolektor. Tjerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer edisi cetakan 1964 misalnya, laku terjual Rp 520 ribu pada 2014 melalui pelelangan pencinta buku di Facebook.

4. Koleksi sneaker

Dalam perkembangannya, sepatu yang terbuat dari sol karet dan bagian atas berbahan kanvas, serta populer disebut sneaker ini memiliki fungsi yang kian beragam. Tidak jarang bila model yang unik dan terbatas sering dikeluarkan oleh beberapa produsen.

Bagi pecinta merek tertentu, mereka pun tidak segan untuk mengeluarkan kocek yang besar demi mendapatkan edisi terbatas itu.

Tidak heran di dalam salah satu tulisan blogger muda di bidang finansial bernama Simon Zhen berjudul Popular Nike Sneakers Can Be Better Investments Than Stocks, dirinya menjelaskan konsep-konsep investasi sederhana untuk membeli saham yang dapat diaplikasikan juga untuk pembelian sneaker. Zhen mengatakan alasan yang sama.

Ia menuturkan, konsep itu bisa terjadi karena saat ini semakin banyak orang yang berminat untuk memakai sneaker. Di sisi lain, jumlah sneaker yang tersedia di pasar semakin menurun.

Seperti layaknya sebuah mobil klasik, sneaker juga perlu perawatan rutin. Terutama, jika sering menggunakannya.

Zhen menuturkan, jika dapat merawat sneaker dengan baik untuk jangka waktu satu atau dua tahun, maka Anda sudah dapat memetik keuntungan dari penjualan sneaker tersebut.

Contohnya pada Agustus 2010, Zhen membeli sneaker Air Max produksi Nike yang dikeluarkan tahun 90-an seharga US $94,99.

Karena biasanya Nike tidak mengeluarkan model sejenis dalam jangka waktu dua tahun kedepan, maka Zhen menggunakan jangka waktu ini sebagai dasar perhitungannya.

Kemudian pada 2013, dia dapat menjual sneaker tersebut seharga US $ 130, atau setara dengan 16,98 persen keuntungan per tahun — lebih tinggi dari index S&P yang hanya berkisar sekitar 9-10 persen. Bahkan, dirinya mengaku tidak akan terkejut jika sneaker ini nantinya bisa dijual di harga US $150. Luar biasa, bukan? (Ahm/Gdn)

Lanjutkan Membaca ↓