RI Perlu Benahi Sektor Energi agar Bertahan

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 07 Mar 2016, 17:00 WIB
Diperbarui 07 Mar 2016, 17:00 WIB
20160114-Melihat Pusat Minyak Mentah Pertamax di Indramayu
Perbesar
Petugas PT. Pertamina (Persero) memantau Refinery Unit (RU) atau kilang VI Balongan di Indramayu, Jawa Barat, (14/1). RU VI Balongan merupakan tumpuan produksi BBM jenis Pertamax Series milik PT. Pertamina (Persero). (Liputan6.com/Helmi Afandi)

Liputan6.com, Jakarta - Ketahanan energi Indonesia sangat rentan. Hal tersebut terbukti dari cadangan energi yang tipis. Maka jika terjadi perang, dipastikan tidak bisa bertahan lama.

Anggota Komisi VII DPR RI‎ Dito Ganinduto mengatakan kondisi cadangan energi yang menipis untuk minyak mentah/crude oil hanya 14 hari, bahan bakar minyak (BBM) 22 hari, dan elpiji 17 hari. Ini menunjukkan Indonesia sudah masuk dalam situasi krisis energi. Kondisi ini membuat ketahanan nasional sangat rentan.

"Kita tidak punya cadangan nasional sama sekali. Bisa bayangkan kalau perang lima hari. Habis kita karena tidak ada BBM. ‎Artinya energi kita situasinya kritis," ‎kata Dito, dalam diskusi‎ membangun ketahanan energi melalui kilang mini, di Jakarta, Senin (7/3/2016).

Dito menambahkan jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta jiwa, sementara ‎cadangan BBBM hanya 22 hari. Padahal negara lain jauh lebih banyak cadangan BBM-nya, seperti‎ Singapura berpenduduk 4,7 juta jiwa dengan cadangan BBM-nya mencukupi untuk 90 hari.

 

Malaysia penduduknya 28 juta jiwa, cadangan BBM-nya 25 hari, China penduduknya 1,3 miliar jiwa cadangan BBM-nya 90 hari, Amerika Serikat penduduknya 310 juta jiwa, cadangan BBM-nya 260 hari. "Indonesia, penduduknya 250 juta jiwa, cadangan BBM-nya cuma 22 hari,‎" tutur Dito.

Pemerintah sedang merencanakan pembuatan fasilitas pengolahan minyak mentah dengan kapasitas kecil (kilang mini). Salah satu manfaat fasilitas tersebut adalah dapat meningkatkan ‎ketahanan saat terjadi peperangan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan pemenuhan BBM dari dalam negeri merupakan salah satu kunci ketahanan.

Hal tersebut seperti yang diterapkan Rusia dengan memperbanyak kilang berkapasitas kecil atau kilang mini.

"Contoh di Rusia di mana-mana banyak kilang mini. Karena field jauh-jauh, dan kedua, siap-siap perang. Kalau perang, dibom yang mana? Kalau kita cuma ada empat kilang dibom habis kita," ujar Wiratmaja.

Wiratmaja menuturkan kilang mini akan dibangun dekat sumur minyak yang produksinya rendah, sehingga akan meningkatkan efisiensi.

Sebab, kilang mini dapat memotong biaya angkut minyak mentah yang akan diolah. Selain itu, juga dapat mengamankan pasokan BBM wilayah sekitar sumur yang biasanya terpencil.

"Di sisi hulu setelah minyak dijadikan biasanya transport dulu ke kilang yang cukup jauh. Dan efisiensi operasi. Kita negara besar dan banyak remote area dan marginal field. Minyak sedikit cuma 3.000 barel dan transportasi jauh,‎ sehingga kalau ada kilang mini bisa dibuatkan ketahanan," tutur Wiratmaja. (Pew/Ahm)

Saksikan Live Gerhana Matahari Total, Rabu 9 Maret 2016 di Liputan6.com, SCTV dan Indosiar Mulai Pukul 06.00 - 09.00 WIB. Klik di sini