Jokowi: 30 Tahun Lagi Terjadi Perebutan Sumber Energi

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 29 Feb 2016, 11:00 WIB
Diperbarui 29 Feb 2016, 11:00 WIB
20151118-Keterangan-Pers-Jokowi-FF
Perbesar
Presiden Joko Widodo saat ditanya wartawan terkait kisruh pencatutan namanya dan Wapres Jusuf Kalla oleh seorang anggota DPR dan pengusaha demi jatah saham PT Freeport Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, dalam 20 hingga 30 tahun ke depan akan terjadi perebutan sumber energi dan pangan. Oleh karena itu Indonesia memerlukan strategi khusus untuk memenangkan perebutan tersebut. 

"20 sampai 30 tahun ke depan kita akan dihadapkan kompetisi memperebutkan sumber energi dan pangan. Karena itu kita harus membuat strategi ke depan, bagaimana pangan kita, energi kita," kata Jokowi, di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Senin (29/2/2016).

Indonesia memiliki potensi energi dan pangan yang sangat besar. Oleh karena itu yang perlu dilakukan saat ini adalah menyiapkan strategi untuk memanfaatkan strategi sejak dini agar tidak terlambat.

Diharapkan dengan persiapan dini tersebut ketika waktu perebutan energi dan pangan di masa yang akan datang, Indonesia sudah siap menghadapinya. "Sebenarnya kita punya kekuatan dan potensi untuk itu. Strategi besar itu harus dipikirkan dan jangan sampai terlambat," tutur Jokowi.

Di sektor energi, salah satu strategi yang dijalankan untuk memperkuat ketahanan energi adalah membangun fasilitas pengolahan minyak mentah (kilang).

Kilang menjadi fokus karena sudah lama Indonesia tidak melakukan pembangunan kilang, dan di bawah kepemimpinan Jokowi, pembangunan kilang harus cepat dilakukan.

"Pertama yang harus dilakukan adalah membangun kilang. Saya ingatkan, sudah berapa tahun kita tidak bangun dan memperbaiki kilang? Saya sampaikan ke menteri, tahun ini harus sudah diputuskan. Harus," tegasnya.

Menurut Jokowi, Kementerian ESDM yang membawahi sektor energi harus bekerja dengan cepat menyerap anggaran yang dialokasikan untuk menggarap proyek-proyek yang telah direncanakan namun tetap menjaga kualitas.

"Cepat ditandatangani, cepat dikerjakan, cepat diselesaikan, tapi ingat kualitasnya. Tapi kalau ditandatangan cepat begini biasanya kualitasnya bagus," tutup Jokowi. (Pew/Gdn)