Kejar Untung, KCIC Bakal Bangun Properti di Stasiun Kereta Cepat

Oleh Ilyas Istianur Praditya pada 01 Feb 2016, 10:30 WIB
Diperbarui 28 Jun 2018, 22:12 WIB
20150905-Kereta-Cepat

Liputan6.com, Jakarta - PT Kereta Cepat Indonesia (KCIC) telah menyatakan masa konsesi untuk pembangunan dan pengoperasian kereta cepat Jakarta-Bandung mencapai 50 tahun.‎ Dari konsesi tersebut, perusahaan menetapkan Return on Investment (ROI) di tahun ke 40.‎Untuk mencapai ROI yang sudah dijanjikan tersebut, ada beberapa hal yang bakal dilakukan perusahaan selain pendapatan utama tetap dari harga tiket kereta cepat yang rencananya dibanderol Rp 200 ribu per orang."Sumber pengembalian investasi pengembangan kereta cepat, pengembangan‎ Transit Oriented Development (TOD) di Halim, Karawang, Walini, Tegal Luar yang memberikan kontribusi kepada pendapatan sebesar 26 persen," tulis data dari Kementerian BUMN yang dikutip Liputan6.com, Senin (1/2/2016).‎Nantinya di TOD atau stasiun ini akan dikembangkan berbagai bangunan mulai dari pusat niaga hingga ke tempat penginapan demi mengakomodir para wisatawan yang ingin ke Jakarta ataupun Bandung.

 

Untuk TOD, di wilayah Tegal Luar dan Halim Perdanakusuma direncanakan akan memiliki fasilitas yang lebih besar mengingat dua TOD tersebut akan menjadi lokasi interkoneksi dengan Light Rail Transit (LRT) dan depo kereta cepat.Pengembangan TOD ini menurut data tersebut merupakan unit usaha‎ yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan kereta cepat. Bahkan, dalam sepuluh tahun pertama operasional kereta akan mengalami  cash flow negatif apabila tidak memperhitungkan pendapatan dari pengembangan TOD.Dijelaskannya, potensi penumpang yang beralih dari moda transportasi lain saat ini sebesar 20 ribu orang per hari. Nantinya, diasumsikan jumpah penumpang ‎Jakarta-Bandung yang akan beralih ke kereta cepat pada 2019 sebesar 28.885 orang per hari.‎"Selain itu pengembangan kota baru di Walini akan menciptakan sentra ekonomi baru dan mendorong pengembangan kawasan hunian baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional koridor Jakarta-Bandung," tulis data dari manfaat adanya kereta cepat ini. (Yas/Ndw)