Produksi Lapangan Banyu Urip Blok Cepu Meningkat 130 Ribu BPH

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 15 Des 2015, 10:13 WIB
Diperbarui 15 Des 2015, 10:13 WIB
20151007-Ilustrasi Tambang Minyak
Perbesar
Ilustrasi Tambang Minyak (iStock)

Liputan6.com, Jakarta - ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) operator Blok Cepu, mengungkapkan bahwa produksi minyak dari proyek Banyu Urip di Bojonegoro, Jawa Timur telah meningkat secara bertahap lebih dari 130 ribu bararrel per hari (bph).

Project Executive ExxonMobil Cepu Limited,‎ Dan Wieczyinski‎ mengatakan, peningkatan produksi tersebut seiring dengan dimulainya produksi dari Central Processing Facility(CPF). "Lapangan Banyu Urip diharapkan dapat menghasilkan 450 juta barrel minyak selama masa operasi proyek," kata Wieczyinski‎, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (14/12/2015).

Lapangan Banyu Urip merupakan proyek minyak terbesar di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, dan pada puncak produksinya akan menghasilkan sekitar 20 persen dari target produksi minyak nasional di 2016.


“Proyek ini mencerminkan keahlian manajemen proyek yang melibatkan semua pihak termasuk SKK Migas, ExxonMobil, pemerintah daerah, para pemasok, dan badan-badan usaha lokal yang masing-masing telah menunjukkan kapabilitasnya,” tutur Wieczyinski.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi mengungkapkan, lapangan Banyu Urip terdapat 45 sumur yang berproduksi dari tiga tapak sumur, satu fasilitas pemrosesan pusat, jalur pipa darat dan lepas pantai sepanjang 95 km dan satu kapal tangki penyimpanan dan alir muat serta fasilitas bongkar-muat kapal di Laut Jawa.

ExxonMobil yang bermitra dengan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) dan Badan Kerjasama Blok Cepu (BKS) memulai produksi dari Banyu Urip sejak akhir 2008 dengan peningkatan output bertahap seiring dengan bertambahnya fasilitas pengoperasian di tahun 2014 dan 2015.

Lapangan Banyu Urip telah berhasil dibangun oleh 5 konsorsium kontraktor EPC yang dipimpin oleh perusahaan nasional, dan mempekerjakan 17 ribu pekerja lokal dan nasional pada titik puncak kegiatannya, atau 95 persen dari keseluruhan tenaga kerja proyek.

Pembangunan fasilitas produksi Banyu Urip melibatkan lebih dari 460 sub kontraktor Indonesia, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas nasional.

“Banyu Urip membantu memaksimalkan nilai sumber energi Indonesia dan menciptakan manfaat yang signifikan dan berkelanjutan,” tutup Amien. (Pew/Gdn)



**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini

**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya