Soal Investasi, RI Lebih Favorit daripada Vietnam dan Singapura

Oleh Septian Deny pada 21 Nov 2015, 19:13 WIB
Diperbarui 21 Nov 2015, 19:13 WIB
20151026-BKPM Luncurkan Layanan Investasi 3 Jam-Jakarta
Perbesar
Sejumlah konsumen menunggu di kantor BKPM, Jakarta, Senin (26/10/2015). Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) merupakan komitmen pemerintah demi memberikan pelayanan prima dan cepat kepada investor. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyatakan pihaknya optimistis dapat bersaing dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. BKPM pede karena survey menyebutkan, Indonesia berada di posisi dua sebagai tujuan investasi paling menarik pada KTT APEC.

Menurutnya, hal ini didasari dengan persepsi positif kalangan pelaku usaha terhadap potensi investasi di Indonesia. Berdasarkan hasil survei Price Waterhouse Coopers (PwC) yang dirilis dalam pelaksanaan KTT APEC, Indonesia ditempatkan sebagai tujuan investasi favorit nomor dua, setelah China. Dalam survei ini, Indonesia berada di atas negara ASEAN lainnya terutama Vietnam, Malaysia dan Singapura.‬

"Hasil survey tersebut sejalan dengan data FDI Markets Financial Times, di mana pada periode Januari-September 2015, FDI yang masuk ke Indonesia tertinggi di ASEAN, sebesar US$ 20,96 miliar atau 29,12 persen. Diikuti berikutnya oleh Vietnam US$ 14,06 miliar atau 19,54 persen dan Myanmar US$ 9,22 miliar atau 12,81 persen," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (21/11/2015).

Franky mengungkapkan, saat ini pemerintah berusaha keras untuk dapat mengkonversi persepsi positif terhadap investasi ke Indonesia ini ke dalam realisasi investasi, sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian.

Terbaru, BKPM bersama Kementerian/Lembaga terkait sedang menyusun panduan investasi, untuk mengakomodir dan memberikan kepastian hukum terhadap sektor-sektor usaha yang baru berkembang, seperti bisnis pemakaman, senior living dan ekonomi digital.

"Adanya panduan investasi yang jelas merupakan salah satu daya saing investasi sebuah negara. Seperti Myanmar yang secara tegas menyebutkan seluruh sektor usaha dapat dimasuki oleh investor asing, kecuali sektor distribusi. Indonesia pun akan memperjelas panduan investasinya, terutama sektor mana yang dibuka untuk asing dan mana yang tidak," kata dia.

Menurut Franky, di antara negara-negara ASEAN yang menjadi saingan berat Indonesia sebagai negara tujuan investasi adalah Vietnam dan Myanmar. Dari analisisnya, Indonesia dan Vietnam selalu bersaing ketat dalam menarik outward investment dari tujuh negara mitra ASEAN yaitu Amerika Serikat, Jepang, Korea, China, Australia, Selandia Baru dan India.

"Kita masih kalah dalam upaya menarik investasi dari Korea Selatan, dibandingkan Vietnam. Tapi untuk daya tarik investasi dari China kita masih unggul. Tinggal bagaimana mendorong peningkatan realisasi investasi dari China yang masih relative kecil," lanjutnya.

Franky juga menyebutkan, selain menarik investasi ke Indonesia, menghadapi pemberlakuan MEA, BKPM juga memberikan dukungan terhadap investor dari Indonesia yang menanamkan modalnya di luar negeri, termasuk di negara-negara ASEAN. Dukungan diberikan dalam bentuk fasilitasi dan pendampingan dalam proses outward investment tersebut. (Dny/Zul)