Promosi Produk Lokal, Thomas Lembong Andalkan Media Sosial

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 05 Nov 2015, 17:01 WIB
Diperbarui 05 Nov 2015, 17:01 WIB
20151103-Mainan Lokal yang Makin Terpinggirkan oleh Produk Impor-Jakarta
Perbesar
Pedagang menata mainan dagangannya yang terbuat dari kayu di kios penjual mainan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (3/11). Membanjirnya mainan anak asal China mengancam produksi mainan dalam negeri. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta - Guna mendorong peningkatan neraca perdagangan Indonesia, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggencarkan promosi produk-produk lokal.

Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengatakan keseriusan pemerintah dalam melakukan promosi terlihat dari meningkatnya anggaran promosi di kementeriannya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016 hingga tiga kali lipat.

"Sebelum saya menjabat, Pak Presiden sudah menaikkan anggaran promosi di Kemendag tiga kali lipat. Sebelumnya Rp 220 miliar per tahun, di APBN 2016 naik menjadi Rp 850 miliar per tahun. Jadi memang kita harus gencar di promosi," ujarnya di Jakarta, Kamis (5/11/2015).

Dia menjelaskan salah satu kegiatan promosi yang akan dilakukan adalah melalui media sosial. Hal ini mengingat perkembangan teknologi yang sudah sangat canggih.

"Ini kan sudah abad 21, jadi mungkin kita mesti coba berinovasi melalui sosial media atau cara-cara yang ramah sosial media. Karena kayaknya zaman sekarang itu produk-produk laku kalau viral, apalagi di generasi muda. Cara-cara lama sudah enggak begitu relevan," kata dia.

Selain melalui promosi, Thomas menyatakan produk-produk Indonesia juga harus melakukan perbaikan dalam hal pengemasan. Menurut dia, jika dibandingkan dengan negara lain, kemasan produk di Indonesia jauh tertinggal.

"Kalau kita lihat, dibanding dengan negara lain, kita masih kalah di kemasan. Kemasan itu penting karena aspek pertama dari produk yang dilihat oleh konsumen," ujarnya.

Thomas mengungkapkan Indonesia bisa mencontoh kemasan dari produk-produk asal Korea Selatan, Jepang, Singapura, atau Hong Kong yang menurut dia sudah lebih baik. Untuk tahap awal, produsen di Indonesia bisa meniru cara pengemasan produk dari negara-negara tersebut.

"Kemasan itu menurut saya, kita harus lihat barang-barang saingan kita. Mungkin kita di awal tiru saja dulu. Terus terang saja supaya kita bisa tandingi. Setelah kita tandingi, baru kita cari modifikasi, variasi terhadap produk yang laku di luar," ujarnya.

Selain itu, di era globalisasi seperti saat ini, kata Thomas, produsen lokal juga harus belajar dan rajin mengamati tren yang tengah berkembang di dunia. Dengan demikian, produk-produk yang diciptakannya akan lebih mudah diterima.

"Kalau kita ngomong global, yang pertama harus dikenal oleh masyarakat dunia adalah Indonesia itu sendiri. Jadi, konsumen global harus kenal Indonesia dulu dari budaya dan karakter Indonesia, baru kemudian produk unggulan yang unik yang hanya ada di Indonesia," kata Thomas. (Amd/Ndw)**