Daging Celeng Marak Setiap Lebaran, Siapa Pelakunya?

Oleh Fiki Ariyanti pada 24 Sep 2015, 13:07 WIB
Diperbarui 24 Sep 2015, 13:07 WIB
Daging Celeng Marak Setiap Lebaran, Siapa Pelakunya?
Perbesar
Pedagang daging celeng industri rumahan langsung menjual produknya ke rumah makan dan restoran.

Liputan6.com, Jakarta - Setiap memasuki Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masyarakat selalu diresahkan dengan peredaran daging babi hutan (celeng). Bahkan peredaran daging celeng tersebut tak hanya di kota-kota yang dekat dengan hutan saja melankan masuk ke kota besar seperti Jakarta. Pemain di bisnis haram ini diduga pedagang daging skala industri rumahan (home industry).

Salah satu pedagang daging di Pasar Senen, Jakarta, Furqon (38) mengungkapkan, penyelundupan daging celeng ke Jakarta menyebar di kalangan pedagang daging industri rumahan. Sementara daging celeng sulit masuk ke pasar tradisional.

"Setiap ada kenaikan harga dan Lebaran, selalu saja daging celeng marak. Pengusaha daging industri rumahan sangat rawan dengan produk daging celeng yang dioplos daging sapi segar," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Kamis (24/9/2015).

Menurut Pria asal Jakarta itu, pedagang daging celeng industri rumahan langsung menjual produknya ke rumah makan, restoran dan tempat lainnnya karena tidak ada pengawasan dari pemerintah.

"Daging sudah diacak atau dioplos, jadi ilang baunya dan sulit membedakan. Sedangkan jika daging celeng di jual di pasar tradisional, pasti kan ada pemeriksaan dari pemerintah. Saat dijajakan juga akan kelihatan karena daging celeng dan daging sapi punya warna, tekstur yang beda," terang Furqon.

Daging celeng oplosan, kata dia, dijual dengan harga Rp 50 ribu per Kilogram (kg). Sementara daging sapi dihargai Rp 100 ribu-Rp 110 ribu setiap kg. "Kalau selisihnya Rp 50 ribu dikalikan penjualan dia 100 Kg per hari, sudah Rp 5 juta. Untungnya besar sekali," keluh Furqon.

Paling parah dampak yang ditimbulkan akibat peredaran daging celeng, diakuinya mencoreng bisnis daging sapi di pasar. Penyelundupan daging celeng sangat merugikan konsumen.

"Bisnis yang sudah dirintis bertahun-tahun bisa rusak gara-gara daging celeng. Bersyukur, pelanggan sudah pada tahu semua bahwa di pasar ini tidak menjual daging celeng yang dioplos daging sapi," tukas dia. (Fik/Gdn)

Tag Terkait