Belum Mendesak, Pemerintah Enggan Turunkan Harga BBM

Oleh Fiki Ariyanti pada 20 Sep 2015, 07:19 WIB
Belum Mendesak, Pemerintah Enggan Turunkan Harga BBM

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menegaskan tidak akan ada opsi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) pada paket kebijakan ekonomi tahap berikutnya meski ada potensi anjloknya harga minyak dunia hingga US$ 20 per barel di tahun ini. Penurunan harga BBM dinilai tidak mendesak untuk saat ini.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Montty Giriana mengungkapkan, masyarakat sudah terbiasa dengan harga jual BBM jenis Premium Rp 7.700 dan Solar Rp 6.900 per liter, sehingga penurunan harga BBM bukan sesuatu yang mendesak dilakukan.

"Tidak urgent, masyarakat sudah oke dengan harga saat ini. Karena kalau sudah turun susah lagi naik saat harga minyak dunia naik," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Minggu (20/9/2015).

Menurut Montty, pemerintah belum akan memasukkan penurunan harga BBM sebagai salah satu daftar paket kebijakan ekonomi tahap II yang dijanjikan segera meluncur pada akhir September atau paling lambat Oktober ini.

"Belum sampai ke situ. Belum dipastikan penurunan harga minyak dunia saat ini menentukan harga BBM mendatang. Sementara ini masih tetap," tegas dia.

Momentum jatuhnya harga minyak dunia, katanya, harus dimanfaatkan PT Pertamina (Persero) sebagai cadangan atau tabungan untuk melaksanakan penugasan seperti membangun infrastruktur migas di Tanah Air.

Montty mengaku, bahwa cadangan tersebut tidak akan digunakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini untuk menambal kerugian dari kebijakan mempertahankan harga BBM.

"Saat harga minyak turun, kita harus bikin strategi harga. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk saving dan balik lagi untuk sektor migas, seperti infrastruktur migas dan jangan bocor," tegasnya.

Kendaraan bermotor bersiap mengisi bahan bakar minyak di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (24/12). BPH Migas menyatakan kuota BBM bersubsidi tinggal 1,7% atau 782.000 kiloliter dari total yang dianggarkan dalam APBN-P 2014. (Liputan6.com/Miftahul Hayat)

Sebelumnya, lembaga keuangan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat menyentuh level US$ 20 lantaran pasokan sangat berlebihan. Goldman Sachs menyampaikan pandangannya itu dalam laporan berjudul "Lower for even longer" pada Jumat 11 September 2015.

Goldman Sachs memangkas proyeksinya untuk harga rata-rata minyak menjadi US$ 45 per barel pada 2016 dari sebelumnya US$ 57. Akan tetapi ada potensi harga minyak dapat sentuh US$ 20.

Alasan yang mendasari perkiraan tersebut adalah:

1. Negara produsen minyak yang tergabung dalam OPEC akan kembali memproduksi minyak lebih besar pada 2016 yang dipimpin oleh Aran Saudi, Irak dan Iran. Goldman Sachs percaya kartel untuk mempertahankan pangsa pasarnya telah diperkuat dalam beberapa pekan terakhir.

"Meski pun tantangan kalau harga minyak rendah bagi produsen minyak, alternatif mengurangi produksi akan sama melemahkan pendapatan jangka panjang," tulis Goldman Sachs.

Namun harga minyak yang akan lebih jatuh lagi maka OPEC mempertimbangkan untuk pengurangan produksi.Negara produsen minyak ini memasok sekitar 40 persen dari minyak mentah dunia, dan telah menghasilkan kuota 30 juta barel per hari untuk 15 bulan terakhir.

2. Produsen di luar OPEC termasuk perusahaan Amerika Serikat terbukti lebih tahan menurunkan harga dari yang diharapkan. Hal itu lantaran biaya produksi global jatuh karena efisiensi yang lebih besar, diikuti penurunan tajam harga komoditas lainnya.

Goldman Sachs menyatakan akan perlu penurunan besar dalam produksi minyak dari produsen minyak non-OPEC pada tahun depan.Produksi minyak dari produsen yang tak masuk OPEC diperkirakan turun 500 ribu barel per hari menjadi 57,7 juta pada 2016. Produksi minyak dari AS turun 385 ribu barel per hari pada tahun seiring harga minyak mentah di bawha US$ 50 per barel.

3. Pertumbuhan permintaan global untuk minyak cenderung melambat tahun depan. Hal itu didorong dari ekonomi China yang juga melambat sehingga berdampak terhadap negara lain terutama yang bergantung pada ekspor komoditas. Selain itu, ada sejumlah alasannya yang dapat membuat harga minyak kembali jatuh hingga mencapai titik keseimbangan lebih baik. (Fik/Gdn)

Live Streaming

Powered by
Tragedi Kabut Asap