Pasca Ricuh, 2 Sumur Blok Cepu Masih Tutup

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 02 Agu 2015, 16:47 WIB
Diperbarui 02 Agu 2015, 16:47 WIB
Ilustrasi Pekerja Tambang 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
Ilustrasi Pekerja Tambang 1 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan sampai saat ini masih terdapat 2 sumur minyak dan gas (migas) di Lapangan Banyu Urip Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, yang masih ditutup. Penutupan tersebut karena terdampak dari perusakan terhadap beberapa fasilitas yang dilakukan oleh para pekerja.

Kepala Hubungan Masyarakat SKK Migas, Elan Bintoro mengatakan, dari tiga sumur yang memproduksikan migas di lapangan tersebut, hingga Minggu (2/8/2015), siang pukul 14.30 WIB, masih ada 2 sumur yang belum beroperasi secara normal. Sumur tersebut masih ditutup pasca terjadi kericuhan yang berlangsung pada Sabtu (1/8/2015).

"Kalau soal produksi memang masih produksi. Hanya saja dari 3 saluran yang digunakan, 2 diantaranya kami stop, yaitu Early Oil Expansion (EOE) & Well Pad B," kata Elan, saat berbincang denga Liputan6.com, di Jakarta, Minggu (2/8/2015).

Elan mengungkapkan, saat ini pihak operator lapangan tersebut masih melakukan safety assessment untuk memastikan kondisi sudah aman dari pemicu kebakaran, sebelum sumur tersebut dioperasikan kembali. "Ditutup, masih kami lakukan safety assessment. Tunggu situasi kondusif," tuturnya.

Menurut Elan, aksi kericuhan tersebut tidak merusak fasilitas produksi, yang dirusak hanya bangunan dan kendaraan yang ada di dekat fasilitas produksi, namun untuk alasan keamanan mengindari kebakaran yang berasal dari api aksi kericuhan, kegiatan produksi  tersebut dihentikan.

"Tidak ada kerusakan fasilitas hanya bangunan dan mobil, cuma karena berdekatan dan ada api maka kami tutup sementara. Faslitasi produksi di sana tidak ada yang diganggu. Mereka paham kan pekerja minyak," pungkasnya.

Namun ketika ditanyakan penurunan produksi minyak karena adanya kericuhan tersebut, dirinya belum mendapat informasi perkembangannya.

Untuk diketahui, para pekerja di proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC) 1 Banyu Urip Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur, melakukan perusakan terhadap beberapa fasilitas pabrik seperti bangunan dan kendaraan.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto membeberkan, insiden ini terjadi lantaran para pekerja subkontrakor marah karena tidak diizinkan meninggalkan area kerja lebih cepat saat waktu makan siang.

"Insiden terkait dengan sekuriti terjadi di area kerja EPC 1 Proyek Banyu Urip hari ini, 1 Agustus 2015.∙Pekerja subkontraktor yang dipekerjakan melalui Tripatra-Samsung, kontraktor EPC 1, tidak diperbolehkan meninggalkan area kerja lebih cepat saat makan siang. Beberapa pekerja menjadi marah dan situasi memuncak dan menyebabkan kerusakan kepada bangunan dan kendaraan," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (1/8/2015). (Pew/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya