Kericuhan Blok Cepu Bikin Produksi Minyak RI Hilang 55 Ribu BPH

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 02 Agu 2015, 09:20 WIB
Diperbarui 02 Agu 2015, 09:20 WIB
Ilustrasi Pekerja Tambang 2 (Liputan6.com/M.Iqbal)
Perbesar
Ilustrasi Pekerja Tambang 2 (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan normalisasi kegiatan produksi di Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Tengah, usai terjadi insiden kericuhan di blok minyak dan gas tersebut.

Direktur Pembinaan Usaha Hilir Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Djoko Siswanto mengatakan, setelah kejadia kericuhan, kementerian telah melakukan langkah-langkah penanganan untuk normalisasi produksi blok migas yang diandalkan oleh pemerintah untuk mendorong produksi migas sehingga bisa mencapai target tahun ini.

"Benar, telah terjadi insiden. Langkah-langkah penanganan sedang dan akan terus dilakukan," kata Djoko, seperti dikutip Minggu, (2/8/2015).

Menurut Djoko, untuk mencegah dampak yang lebih besar, maka beberapa fasilitas strategis diamankan, sebagai efeknya produksi agak menurun sedikit. "Mudah-mudahan seteloah pengamanan dapat kembali normal" ungkap Djoko.

Penghentian kegiatan pada Early Oil Expansion (EOE) & Well Pad B, mengurangi produksi pada Sabtu, (1/8/2015) kemarin. Potensi kehilangan produksi yang ada sekitar 50 ribu barel per hari (BPH) hingga 55 ribu barel per hari (barrels oil per day /BOPD).

"Namun, jika hari ini sudah kondusif, akan diproduksikan dan dapat normal kembali," imbuhnya.

Menurunya, Pemerintah Daerah Bojonegoro dan pihak berwajib serta para pihak akan melakukan pertemuan untuk menuntaskan segala sesuatu yang terkait insiden ini.

"Senin akan diadakan rapat lanjutan untuk memulihkan kondisi yang terganggu akibat insiden ini," tutup Djoko.

Untuk diketahui, Para pekerja di proyek Engineering, Procurement and Constructions (EPC) 1 Banyu Urip Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur melakukan perusakan terhadap beberapa fasilitas pabrik seperti bangunan dan kendaraan.

Vice President Public and Government Affairs ExxonMobil Indonesia Erwin Maryoto membeberkan, insiden ini terjadi lantaran para pekerja subkontrakor marah karena tidak diizinkan meninggalkan area kerja lebih cepat saat waktu makan siang.

"Insiden terkait dengan sekuriti terjadi di area kerja EPC 1 Proyek Banyu Urip hari ini, 1 Agustus 2015.∙Pekerja subkontraktor yang dipekerjakan melalui Tripatra-Samsung, kontraktor EPC 1, tidak diperbolehkan meninggalkan area kerja lebih cepat saat makan siang. Beberapa pekerja menjadi marah dan situasi memuncak dan menyebabkan kerusakan kepada bangunan dan kendaraan," ujarnya. (Pew/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya