RI Targetkan Produksi Minyak 830 Ribu Barel per Hari pada 2016

Oleh Achmad Dwi Afriyadi pada 15 Jun 2015, 15:22 WIB
Diperbarui 15 Jun 2015, 15:22 WIB
Semester I 2014 Realisasi Produksi Minyak Nasional 796,5 MBOPD
Perbesar
Aktivitas rutin pekerja anjungan lepas pantai PAPA, Flowstation Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) di Karawang, Jabar, (28/7/2014). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Liputan6.com, Jakarta - Komisi VII DPR RI bersama dengan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyepakati target produksi minyak nasional pada 2016 rata-rata 800 ribu barel per hari (bph) sampai 830 ribu bph. Menteri ESDM, Sudirman Said mengatakan, target yang disepakati tersebut merupakan target yang cukup realistis.

"Untuk 2 tahun berturut-turut melakukan tradisi baru lifting dengan angka realistis, kami mendengar seluruh pandangan fraksi sedikit mencerminkan seperti apa yang kami pikirkan," kata dia di Jakarta, Senin (15/6/2015).

Kementerian ESDM mengaku optimistis target tersebut bakal terpenuhi. Hal itu menimbang target produksi tahun ini yang bakal tercapai. "Proyeksi memang demikian, tetapi kami ingin sampaikan informasi terkini. Berkaitan outlook 2015, dua kali kami ke Cepu target produksi Juli 2015 bisa  ini tercapai. Jawaban MCL masih optimistis, memang benar andalan kami Cepu," ujarnya.

Ketua Komisi VII DPR, Kardaya Warnika mengatakan besaran produksi minyak merupakan usulan masing-masing fraksi. Dari usulan tersebut, Komisi VII DPR RI menawarkan agar besaran produksi minyak disepakati antara 800 ribu bph hingga 830 ribu bph. "Baik dapat kesimpulannya disepakati ya range lifting minyak berada di level 800 ribu -830 ribu," tandas dia.

Untuk diketahui, Blok Cepu ditargetkan bisa mencapai puncak produksi sebesar 165 ribu bph pada kuartal III tahun 2015. Dengan dicapainya puncak produksi 165 ribu bph tersebut maka ada tambahan lifting minyak sehingga bisa menggenapi lifting yang ditetapkan DPR di kisaran 800 ribu bph.

Selain itu, peningkatan produksi Blok Cepu dapat meningkatkan ketahanan energi nasional. Pasalnya, saat ini terjadi defisit pasokan BBM sebesar 500 ribu bph karena konsumsi BBM dalam negeri mencapai 1,3 juta barel per hari, sementara produksi minyak hanya sekitar 800 ribu bph.

Sesuai rencana pengembangan lapangan (Plan of Development/PoD), investasi di Proyek Banyu Urip mencapai lebih dari US$ 2,5 miliar, dengan rincian untuk pembangunan fasilitas produksi sebesar US$ 2,2 miliar dan pengeboran sumur sebanyak US$ 337 juta.

Pembangunan fasilitas dibagi ke dalam lima kontrak EPC (engineering, procurement, and construction/rekayasa, pengadaan, dan konstruksi), yakni fasilitas produksi utama (Central Production Facility/CPF), pipa darat (onshore) 72 km, pipa laut (offshore) dan menara tambat (mooring tower), Floating Storage Off-loading (FSO) serta fasilitas infrastruktur.

Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dengan Mobil Cepu Limited (MCL) sebagai operator. MCL, anak perusahaan dari Exxon Mobil Corporation, memegang 45 persen saham partisipasi, bersama PT Pertamina EP Cepu yang memegang 45 persen saham dan Badan Kerja Sama PI Blok Cepu (BKS) dengan 10 persen saham. Cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip diperkirakan sebesar 450 juta barel. (Amd/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya