Jusuf Kalla: Pakai Batik Tingkatkan Ketahanan Energi

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 14 Apr 2015, 14:27 WIB
Diperbarui 14 Apr 2015, 14:27 WIB
Presiden Jokowi Pimpin  Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara
Perbesar
Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/4/2015). Agenda tersebut membahas RKP 2016 dan pengarahan kepada menteri kabinet kerja. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Kampanye penggunan batik di lingkungan pemerintah ternyata tak hanya untuk menumbuhkan kecintaan kepada produk-produk dalam negeri saja. Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan, penggunaan batik juga bisa menghemat energi sehingga mewujudkan ketahanan energi.

Jusuf Kalla menjelaskan, penghematan energi merupakan cara paling mudah untuk menciptakan ketahanan energi. Pasalnya, penghematan energi tidak memerlukan investasi. Hanya membutuhkan kedisiplinan saja dalam penggunaan energi. "Jadi memang ketahanan energi paling bagus adalah penghematan," kata Kalla, dalam sebuah seminar, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (14/4/2015).

Kalla mengungkapkan, penghematan energi bisa dilakukan melalui gaya hidup, dengan mengatur penggunaan pakaian, seperti menggunakan batik. "kita pakai lampu led, pakai baju batik itu bisa berakibat kepada kebijakan penghematan energi," ungkapnya.

Menurut kalla, dengan mengenakan batik maka suhu pendingin udara yang diperlukan dalam ruangan tak perlu rendah. Dengan cara tersebut listrik yang dibutuhkan pun juga tidak terlalu banyak.

Berbeda jika menggunakan setelah jas. karena cukup tebal, maka suhu pendingin udara pun harus di bawah 20 derajat celsius sehingga energi atau listrik yang dibutuhkan pun akan lebih banyak.

Oleh karena itu, pemerintah melalui Sekretaris Negara (Setneg) menginstruksikan penghematan energi dengan menggunakan batik. "sekarang di Setneg AC tidak boleh di bawah 25 derajat celsius. Tidak ada pakai jas. jadi itu alasan kenapa kami sekarang pakai batik. Itu kebijakan penghematan energi, bukan mode itu, coba kalau Anda pakai jas pasti kepanasan," tuturnya.

Selain menjalankan aturan teknis, secara jangka panjang pemerintah juga melakukan cara untuk mewujudkan ketahanan energi. Beberapa diantaranya adalah membangun tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM). Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyatakan, saat ini cadangan strategis BBM Indonesia hanya cukup sampai 20 hari saja.

Dengan penambahan kilang tersebut, diharapkan cadangan strategis bisa meningkat 30 hari. "Bisa tidak terus menimbun sampai 30 hari syukur-syukur sampai 30 hari lagi," ungkapnya.

Selain itu, PT Pertamina (Persero) juga akan berburu minyak dari luar negeri. Saat ini, Pertamina sedang fokus mengakusisi lapangan minyak di luar negeri. Langkah tersebut menjadi salah satu cara agar produksi minyak perusahaan tersebut bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Untuk mencari minyak di luar negeri, perseroan memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. namun hal tersebut bukan halangan. Saat ini mereka sudah menyiapkan dana yang berasal dari utang di dalam negeri. (Pew/Gdn)