Survei: Orang RI Paling Banyak Kuras Duit Buat Beli Makanan

Oleh Siska Amelie F Deil pada 13 Feb 2015, 13:42 WIB
Diperbarui 13 Feb 2015, 13:42 WIB
Ini 10 Macam Sarapan Favorit Orang Indonesia
Perbesar
Orang Indonesia memiliki keunikan tersendiri saat sarapan. Makanan-makanan berikut lumrah dimakan orang Indonesia untuk sarapan. Apa saja?

Liputan6.com, Jakarta - Credit Suisse Research Institute (CSRI) kembali menerbitkan hasil survei tahunan kelima tentang konsumen di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan survei bertajuk `Emerging Markets Consumer Survey 2015` tersebut, Credit Suisse berhasil mengungkap dua hal yang paling menguras pendapatan masyarakat Indonesia.

"Sama halnya dengan negara-negara lain dengan PDB rendah, pangan masih menguras persentase terbesar pendapatan bulanan masyarakat Indonesia, meski secara proporsi angka, jumlahnya lebih rendah dibandingkan survei sebelumnya," seperti dikutip dari laporan resmi CSRI, Jumat (13/2/2015).

Sejak 2013, inflasi makanan dan minuman di Indonesia berada di level moderat karena kebanyakan konsumen menyatakan, harga dasar pangan naik di bawah tujuh persen. Angka tersebut masih di bawah standar kenaikan upah yang kni dinikmati banyak pegawai.

"Belanja terbesar kedua adalah untuk layanan publik dan perumahan, yang kemungkinan besar dipicu naiknya tarif dasar listrik dan harga rumah," terangnya.

Survei 2015 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung membelanjakan uangnya untuk smartphone, akses Internet, properti, sepeda motor, dan telepon selular. Tahun lalu, kebanyakan total belanja konsumen dihabiskan untuk, produk susu, minuman berkarbonasi, TV dan smartphone.

Sejauh ini, survei tersebut menemukan, masyarakat Indonesia tetap berhati-hati dengan rencana belanja jangka pendek, dan menempati peringkat keempat dalam kategori `saatnya untuk belanja besar` yang mencerminkan lingkungan makro secara umum.

Dari survei tersebut, terungkap juga optimisme konsumen yang kian meningkat, terutama dalam sektor belanja perangkat teknologi dan peluang di industri otomotif. Itu terjadi di tengah depresiasi rupiah dan inflasi akibat perubahan harga BBM, penyesuaian upah minimum daerah, serta pemilihan umum tahun lalu. (Sis/Ndw)