Industri Tekstil Jawa Tengah Perlu Tenaga Terampil

Oleh Edhie Prayitno Ige pada 20 Jan 2015, 12:42 WIB
Diperbarui 20 Jan 2015, 12:42 WIB
 Tarif Listrik Naik, Ongkos Produksi Meningkat
Perbesar
Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan pembuatan kaos kampanye salah satu pasangan capres-cawapres di perusahaan konveksi rumahan di Bukit Duri, Jakarta, Selasa (1/7/2014).(Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Semarang - Banyaknya industri tekstil yang memindahkan pabriknya ke Jawa Tengah, menyebabkan kebutuhan tenaga kerja yang trampil di daerah tersebut meningkat. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi menyebutkan, peran Balai Latihan Kerja milik pemerintah bisa mengambil peran lebih jauh.

Menurutnya, selama ini kebutuhan tenaga kerja di Jawa Tengah tak bermasalah. Namun penyediaan tenaga terampil yang sudah siap langsung bekerja tanpa pelatihan masih kurang.

"Jika hanya sekadar tenaga kerja maka Jawa Tengah memiliki banyak tenaga kerja usia produktif yang siap memenuhi kebutuhan. Namun jika berbicara tenaga kerja yang terampil masih sangat minim," kata Frans Kongi, Selasa (20/1/2015).

Ditambahkan, agar perusahaan tidak tergantung kepada pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Frans berharap agar perusahaan tersebut juga mempersiapkan tenaga-tenaga sesuai spesifikasi yang dibutuhkan.

"Perusahaan harus juga melatih para tenaga kerja. Tentunya selain disiapkan sebelumnya, bisa juga dilakukan sambil berjalan. Jadi tetap bisa sambil bekerja," kata Frans.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Kota Semarang, Agung Wahono menyebutkan, kebutuhan tenaga kerja di sektor garmen tumbuh sangat tinggi. Sebagai gambaran, selama 2014, kebutuhan tenaga kerja mencapai 1.000 tenaga kerja hingga 2.000 tenaga kerja terampil khusus menjahit. Diperkirakan tahun 2015 akan meningkat lebih tinggi lagi.

"Bayangkan saja, satu pabrik garmen saja butuh sekitar 5.000 orang, kalau pabriknya semakin banyak tentu kebutuhannya akan semakin besar pula," kata Agung.

Menurutnya, kebutuhan paling tinggi adalah ketrampilan menjahit. Menurutnya, khusus untuk tenaga kerja menjahit mau tidak mau harus dipenuhi karena setiap mesin harus dipegang oleh satu orang. (Edhie Prayitno Ige/Gdn)