Kemendag Temukan Daging Celeng Dijual di Tangerang

Oleh Septian Deny pada 15 Jul 2014, 20:02 WIB
Diperbarui 15 Jul 2014, 20:02 WIB
Segera Beli Daging Sapi Sebelum Mahal
Perbesar
Karena banyaknya permintaan, biasanya harga-harga menjelang Ramadan akan naik termasuk daging sapi, Pasar Senen, Jakarta, Rabu (25/6/2014) (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Maraknya peredaran daging celeng yang dicampur atau dinyatakan sebagai daging sapi oleh oknum tertentu terus diselidiki oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag)

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan menindaklanjuti hal tersebut pihaknya telah melakukan mengambilan sampel daging dari sekitar 70-80 tempat penjualan daging di wilayah Jabodetabek.

"Dari jumlah tersebut yang kami mencurigai ada 15 tempat kemudian kita ajukan untuk diuji di laboratorium," ujarnya saat melakukan kunjungan ke Lotte Mart, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Dari 15 tempat yang dicurigai tersebut, ternyata ditemukan sampel dari satu tempat yang terbukti merupakan daging celeng.

"Dari pendalaman itu, 15 kita uji lab, sedangkan lainnya hanya dengan keterangan dan meyakinkan bahwa itu bukan daging celeng. Dari 15 yang belum kita yakini itu ternyata ada satu yang terbukti bukan daging sapi. Tetapi hanya sedikit, paling hanya sekitar setengah kilogram," lanjutnya.

Bayu mengatakan, oknum pedagang yang menjual daging celeng tersebut mengaku tidak mengetahui bahwa yang dijualnya itu bukan daging sapi. Hal ini karena kurangnya pengetahuan penjual untuk mampu membedakan jenis daging yang dijualnya.

"Yang jual itu pedagang kecil. Sekarang sedang diproses di Tangerang, diproses oleh polisi dan kita dampingi. Yang penting kami sudah dapat mencegah. Meski belumĀ  tahu 100 persen steril atau tidak tetapi info di lapangan karena pengawasan ini pemasoknya sudah tidak ada. Tapi biasanya mereka datang dari Sumatera Selatan," katanya.

Dia menegaskan, sebenarnya daging celeng dengan daging babi memiliki spesifikasi masing-masing. Dia menegaskan bahwa menjual daging babi diperbolehkan asal tetap dijual sebagai daging babi, bukan sebagai daging sapi atau yang lainnya.

Selain itu, daging babi juga biasanya berasal peternakan dan memiliki standar sesuai dengan prosedur kesehatan hewan dari dinas karantina.

"Memang sulit bedakan daging celeng dengan deging babi putih. Celeng itu biasanya berasal dari berburu sehingga jumlahnya juga tidak banyak. Lagi pula, daging babi ternak yang dicampur ke sapi mungkin hanya kecil karena biasanya langsung bisa ketahuan," jelasnya.

Meski demikian, Bayu tetap meminta masyarakat untuk waspada dan tidak tergiur dengan harga daging yang murah namun tidak bisa dijamin kualitasnya.

"Ada yang bilang daging babi ternakan dan sapi ada selesih harga Rp 10 ribu-Rp 20 ribu per kg. Jadi kita sarankan kalau beli daging beli dari pedagang yang sudah dikenal dan berada di dalam pasar, jadi bisa kita bisa bertanya. Tapi secara umum kasus semacam ini sifatnya lokal," tandasnya. (Dny/Ndw)