Soal Energi, Rakyat Indonesia Hanya Punya 2 Mimpi Sederhana

Oleh Siska Amelie F Deil pada 06 Jul 2014, 13:39 WIB
Diperbarui 06 Jul 2014, 13:39 WIB
Ini Plus-Minus RI Punya Jumlah Penduduk yang Besar
Perbesar
Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia ini yang membuat pemerintah harus adu cepat menangani permasalahan.

Liputan6.com, Jakarta - Empat hari menjelang pemilu, masing-masing Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) telah menyampaikan visi dan misinya di berbagai bidang termasuk sektor energi. Namun begitu, Pengamat Energi Nasional Iwa Garniwa menilai hanya ada dua hal terkait energi yang saat ini benar-benar dibutuhkan masyarakat Indonesia.

"Keinginan masyarakat di bidang energi itu sederhana. Cuma dua. Pertama harganya terjangkau dan kedua, barangnya ada," ungkap Iwa pada acara Live Streaming Debat Capres dan Cawapres di KantorĀ Liputan6.com, SCTV Tower Jakarta, Sabtu malam (5/7/2014).

Menurutnya, visi dan misi apapun yang disampaikan masing-masing kandidat harus dapat memenuhi dua mimpi sederhana tersebut. Pasalnya, seringkali sejumlah energi seperti minyak dan gas tersedia dengan kuantitas yang cukup banyak tetapi masyarakat tidak sanggup membelinya.

"Kadang kebalikannya, masyarakat mampu membelinya seperti misalnya minyak, tapi barangnya yang tidak ada," ujarnya. Dia lalu mencontohkan, Venezuela yang memiliki cadangan minyak berlimpah hingga 15 persen tetapi daya beli masyarakatnya rendah.

Sementara, berbicara mengenai kendala terbesar di bidang ketahanan energi, Iwa menunjuk subsidi energi yang terlalu besar di Tanah Air sebagai masalah utama.

"Subsidi energi yang semakin meningkat itu sesuatu yang salah. Jangan pernah menyalahkan perbaikan pertumbuhan ekonomi yang membuat kebutuhan energi meningkat," ujarnya.

Guru besar Universitas Indonesia itu juga menantang para kandidat pemilihan presiden untuk mengatasi masalah subsidi yang kian meradang tersebut. Selain itu, pemerintah baru juga diminta untuk memberikan kebijakan area atau regional yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan lokal.

"Mampu tidak turunkan subsidi? Tidak ada cara lain kecuali dengan berani menaikkan harga minyak dan gas," tandasnya. (Sis/Gdn)