Masyarakat Bisa Balik ke Zaman Batu Bila Ini Terjadi

Oleh Agustina Melani pada 17 Jun 2014, 16:37 WIB
Diperbarui 17 Jun 2014, 16:37 WIB
Perbesar
Sumur panas bumi (geothermal) untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Banjarnegara, Jateng. Indonesia memiliki potensi energi panas bumi terbesar di dunia yaitu sebesar 33 gigawatt.(Antara)

Liputan6.com, Yogyakarta - Kebutuhan energi mulai dari elpiji, bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan non subsidi sangat penting untuk hajat hidup orang banyak. Bila kebutuhan energi itu tak terpenuhi maka kehidupan masyarakat di negara ini bisa kembali ke zaman batu.

Demikian disampaikan Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Hanung Budya, Selasa (17/6/2014) saat acara On Train Workshop Media Pertamina di Yogyakarta.

"Kalau listrik mati dan tidak ada masih ada obor kalau tidak ada BBM, elpiji gas maka kehidupan kembali ke zaman batu," tutur Hanung.

Hanung menuturkan, selain infrastruktur, kebutuhan energi juga menjadi hal penting untuk meningkatkan daya saing. Saat ini Indonesia tak hanya menghadapi masalah untuk meningkatkan infrastruktur tetapi juga energi.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi tantangan untuk menyalurkan BBM subsidi dan non subsidi. Selain itu, infrastruktur untuk menyalurkan BBM tersebut juga menjadi kendala.

Hanung menambahkan, Indonesia menjadi salah satu negara yang belum menyiapkan stok strategic petroleum reserve (SRP). Padahal negara lain seperti Laos telah memiliki SRP.

"Laos dan Myanmar saja punya SRP 90 hari stok. Sedangkan Jepang empat bulan. Sedangkan sekarang stok nasional rata-rata sekitar 18-20 hari. 20 tahun lalu bisa 35 hari," kata Hanung.

Selain itu, konsumsi energi di Indonesia meningkat sekitar 8%-12% dalam beberapa tahun terakhir dengan tak diimbangi infrastruktur.

"Bila tak menambah infrastruktur BBM maka stok BBM Pertamina akan tersisa 10 hari. Apa yang terjadi dengan Indonesia bila stoknya hanya 10 hari," kata Hanung.

Oleh karena itu, Pertamina menambah fasilitas distribusi BBM dan memodernisasi kilang minyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi masyarakat Indonesia.

Pertamina telah menargetkan penambahan kapasitas penampungan bahan bakar minyak sebesar 1,25 juta KL menjadi 5,97 juta KL hingga 2018 yang tersebar di Indonesia bagian Timur, Tengah, maupun Barat.

Untuk fasilitas retail, Pertamina tahun ini akan menambah sebanyak 226 outlet, mulai dari SPBU, Agen Premium dan Minyak Solar (APMS), serta Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN).

PT Pertamina memiliki mandat untuk menyalurkan bbm tersebut di Indonesia. Setiap masyarakat Indonesia memiliki hak ekonomi untuk mendapatkan kebutuhan energi itu.

"Kebutuhan 85 persen energi Indonesia dideliver oleh Pertamina. Distribusi bbm terutama pso,semua warga negara Indonesia memiliki hak ekonomi,pso dengan harga subsidi. Warga-warga tinggal di Jakarta,Manado,Rote Sabang dan Merauke ini sebuah keniscayaan mampu dilaksanakan Pertamina sebagai  penerima mandat distribusi pso.bbm ataupun energi," kata Hanung. (Ahm/Nrm)