Sejak Orde Baru Tumbang, Akhirnya RI Punya Proyek Migas Raksasa

Oleh Pebrianto Eko Wicaksono pada 21 Mei 2014, 16:42 WIB
Diperbarui 21 Mei 2014, 16:42 WIB
Perbesar
Pembangunan kilang mini minyak blok Cepu di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur. Kilang ini mampu mengolah minyak mentah blok Cepu, 6.000 barel per hari.(Antara)

Liputan6.com, Jakarta- Proyek Minyak dan Gas Alam (migas) Cepu, Jawa Tengah, harus harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena merupakan proyek terbesar sejak era orde baru.

Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono menjelaskan, pengelolaan proyek migas blok Cepu, merupakan peristiwa sejarah. Pasalnya, selama ini tidak ada proyek blok migas yang cukup besar sepanjang era orde baru.

Menurut dia, sebagai proyek yang besar, proyek tersebut seharusnya mendapat perhatian strategis. Alasannya, masih banyak kendala dalam pengembangan proyek gas di Indonesia.

"Gas bumi mendapat perhatian besar, Blok Natuna, Blok Masela dan Blok Cepu harus mendapat perhatian pemerintah karena dalam pengerjaannya masih banyak yang harus diurai bottleneck-nya," kata Boediono, dalam pameran IPA ke 38 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu  (21/5/2014).

Namun meskipun ada hambatan, tidak sedikit yang bisa dicapai dalam beberapa tahun ini. Ia mencontohkan, Blok Cepu sudah dimulai konstruksinya. "Bila tidak ada hambatan, lifting Blok Cepu akan mencapai puncaknya 160 ribu bph," ungkapnya.

Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menargetkan proyek Blok Cepu bisa selesai sebelum masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berakhir dan mencapai produksi puncaknya sebesar 160 ribu barel awal tahun depan.

"Cepu akan mulai produksi tahun ini dan diresmikan hasilkan 30 ribu-40 ribu, sebelum akhir tahun 80 ribu. Tahun depan akan sampai puncak produksi 165 ribu itu akan angkat industri minyak," pungkasnya. (Pew/Gdn)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya