Rupiah Paling Berpotensi Melemah di Asia Pasifik

Oleh Siska Amelie F Deil pada 02 Mei 2014, 13:48 WIB
Diperbarui 02 Mei 2014, 13:48 WIB
Rupiah
Perbesar
Rupiah (Antara Foto)

Liputan6.com, New York - Lembaga pengamat utang global, Moody's Investors Service menilai Indonesia sebagai salah satu negara yang paling rentan mengalami depresiasi mata uang berkaitan dengan pembalikan modal. Pasalnya, Indonesia menanggung utang pemerintah berdenominasi dolar dalam jumlah cukup besar.

Seperti mengutip laman Business World, Jumat (2/5/2014), tak hanya Indonesia, Filipina juga digadang-gadang sebagai salah satu negara dengan mata uang paling berisiko melemah. Namun, dibandingkan Indonesia, Filipina masih memiliki pijakan yang kuat jika arus masuk dana asingnya terhambat.

"Filipina memiliki kapasitas kuat untuk memenuhi sendiri kebutuhan dana asingnya jika terdapat gangguan arus masuk internaional. Sementara utang besar Indonesia di genggam asing dan membuatnya sangat tergantung pada pengguliran dana eksternal," seperti ditulis dalam keterangan Moody's.

Sebaliknya, berdasarkan analisa Moody's, China dan Korea Selatan merupakan dua negara yang paling kebal terhadap risiko eksternal khususnya dari langkah penarikan dana stimulus Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Seperti diketahui, sejak akhir tahun lalu, The Fed terus mengurangi pembelian obligasinya secara bertahap hingga hanya US$ 45 miliar per bulan mulai akhir April.

Secara keseluruhan berdasarkan analisanya, Moody's menilai negara-negara di kawasan Asia Pasifik menghadapi sejumlah risiko yang berpotensi mengganggu prospek pertumbuhannya. Meski demikian, lembaga tersebut menilai, sebagian negara dapat bertahan dari berbagai risiko ekonomi yang mungkin menerpanya.

"Negara-negara Asia Pasifik diprediksi dapat bertahan menghadapi risiko pengurangan dana stimulus The Fed," ungkap Moody's dalam laporannya.

Meski demikian, negara-negara Asia Pasifik tetap akan berpotensi terkena gangguan pertumbuhan ekonomi karena lambatnya laju perekonomian China dan pemulihan AS serta Uni Eropa yang cenderung melemah.