Jualan Majalah, Pengemis Bisa Raup Rp 53 Juta per Minggu

Oleh Siska Amelie F Deil pada 12 Apr 2014, 09:56 WIB
Diperbarui 12 Apr 2014, 09:56 WIB
pengemis kaya
Perbesar
(Foto: Dailymail)

Liputan6.com, London - Menjadi pengemis bukan berarti pelakunya miskin dan tak punya uang. Baru-baru ini, sebuah lembaga amal bagi tuna wisma, Big Issue memberikan peluang kerja bagi sejumlah pengemis di London, Inggris.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (12/4/2014), manajemen yayasan yang juga memproduksi majalah ini mengatakan para penjualnya yang merupakan tuna wisma dapat mengantongi uang hingga 400 pound sterling atau Rp 7,6 juta per hari (kurs: Rp 19.113/pound sterling).

Para pengemis tersebut kini telah memiliki profesi baru sebagai penjual majalah. Seorang pengamen di Brimingham juga mengaku dapat merauh hingga 2.800 pound sterling per minggu atau setara Rp 53,5 juta.

Manajer West Minlands, Becky Mitchell mengungkapkan angka tersebut juga diungkapkan sejumlah pengemis lain.

Sayangnya, uang tersebut justru dimanfaatkan para pengemis itu untuk membeli minuman beralkohol dan obat-obatan.

Yayasan Big Issue memang bertujuan memberikan pekerjaan bagi para pengemis yang tidak memiliki rumah untuk meraup uang sendiri. Yayasan tersebut didirikan John Bird dan Gordon Roddick pada September 1991.

Mitchell mengatakan, aksi penjualan tersebut merupakann tindakan ilegal.

"Uang yang diperoleh para pengemis tidak ditabung. Tak ada yang tersisa di akhir pekan. Semua digunakan untuk membeli minuman dan obat-obatan," tuturnya.

Namun pernyataan tersebut dibantah pihak Big Issue yang menyatakan para pengemis yang menjual majalahnya berubah menjadi orang sukses dan mampu berdiri sendiri.

Bahkan banyak juga para pengemis yang beralih profesi ini mendapatkan tindakan tak menyenangkan dari warga sekitar.

Tag Terkait