Hatta Rajasa: RI Bisa Rajai Industri Mainan Asia

Oleh Fiki Ariyanti pada 26 Feb 2014, 12:39 WIB
Hatta Rajasa Mulai Gerilya Politik di Bali

Liputan6.com, Jakarta Penerapan aturan mainan di Tanah Air harus sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) pada 30 April 2014 dapat mendorong peningkatan kualitas produk mainan lokal. Sehingga Indonesia tak perlu lagi mengimpor produk mainan dari negara lain, termasuk China. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa optimistis menanggapi keluarnya aturan SNI bagi seluruh mainan yang beredari di Indonesia. "Kita mampu menjadi industri mainan terbesar di Asia. Saya katakan itu terus terang," papar dia di kantornya, Jakarta, Rabu (26/2/2014).  Dia mengakui bahwa Indonesia sangat berpeluang besar menjadi basis produksi mainan. Potensi itu terbuka lebar mengingat pertumbuhan jumlah mainan di Indonesia berkembang pesat. "Penerapan aturan itu bisa meningkatkan peluang kita untuk menjadi basis produksi mainan, dan potensinya sangat besar," ucapnya. Sebelumnya, Kepala Pusat Perumusan Standar BSN, Nyoman Supriyatna mengatakan, pemberlakuan SNI tersebut akan dilakukan Kementerian Perindustrian. Menurut Nyoman, aturan ini akan menarik mainan yang tidak sesuai SNI."Sampai saat ini masih tanggal 30 April 2014 aturan mainan SNI akan diterapkan. Melalui Kementrian Perindustrian nanti. Jika masih ada yang tidak sesuai SNI ya akan ditarik", katanya. Penerapan aturan ini akan berimbas pada produk impor yang tidak sesuai SNI seperti dari China. Bahkan produk mainan dari China yang beredar di pasaran akan ditarik. "Contohnya di pasar Gembrong, Jakarta yang banyak tidak sesuai SNI ya akan berkurang", tutur NyomanNyoman menjelaskan, agar mainan anak tersebut sesuai SNI maka BSN akan melakukan pengujian produk mainan. BSN akan melakukan 29 pengujian yang meliputi lima  hal pokok, seperti pengujian fisik mekanik, ketahanan bakar, migrasi bahan kimia, daya luncur dan elektrik."Ada 29 pengujian untuk mencapai standar Nasional Indonesia tapi lima  hal pokoknya, apakah mainan tersebut aman secara fisik, tahan bakar, bahan kimia dan nyetrum atau tidak", ungkapnya.Sementara itu di kesempatan sama, Vice Chairman for Marketing Asosiasi Pengusaha Mainan Indonesia, Sudarman Wijaya mengatakan, batas waktu SNI untuk mainan anak bisa memacu pengusaha untuk meningkatkan kualitas produknya. Menurut Sudarman, pengusaha harus mulai aktif menyesuaikan produk mainannya berlabel SNI."Pengusaha mainan seperti dipaksa untuk menigkatkan kualitas produknya tapi ini justru bagus, karena jika mainannya bagus maka akan lolos ditahun mendatang", ujar Sudarman. (Fik/Ndw)

Tag Terkait