Menkominfo: Data Facebook Bukan Bocor, tapi...

Oleh Tommy Kurnia pada 12 Apr 2018, 18:38 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri Facebook Mark Zuckerberg baru saja selesai dicecar Kongres Amerika Serikat (AS) karena dianggap lalai menjaga keamanan Facebook.

Namun, meskipun ramai diberitakan ada data pengguna yang bocor, ternyata istilah bocor tidak pas untuk mendeskripsikan skandal Cambridge Analytica.

"Itu data Facebook bukan bocor. Kalau bocor kan istilahnya kayak pipa ada air tidak tahu di mana bocornya, ini datanya dikompromikan," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara di Jakarta pada Kamis (12/4/2018).

Advertisement

"Jadi data itu perjanjian agar disuruh hapus, tapi tidak dihapus malah dipakai yang lain mungkin," lanjutnya.

Facebook memang mengaku telah mengubah peraturannya tentang data, dan menyuruh Cambridge Analytica untuk menghapus data yang mereka panen lewat aplikasi kuis.

Rudiantara pun menilai Cambridge Analytica membohongi Facebook dengan cara mengaku sudah menghapus data pengguna.

Ketika memberikan testimoni di depan Kongres, bos Facebook itu dicecar oleh Senator Kanapa Harris karena dituding menyembunyikan kasus ini yang sebetulnya terjadi pada 2015.

Zuckerberg pun berkilah pihak Facebook mengira Cambridge Analytica telah menghapus data yang mereka panen sehingga kasus dianggap sudah selesai.

 

1 of 3

DPR Mengundang Facebook

Rudiantara menerangkan telah menjalin kontak dengan otoritas Facebook. Ia pun meminta agar langsung diberi tahu bila ada perubahan angka terkait data pengguna Indonesia yang disalahgunakan.

Ternyata, DPR juga berencana mengundang Facebook Asia Tenggara untuk diminta keterangan.

Menanggapi hal tersebut, Rudiantara tidak mau berkomentar. "Tanyakan ke yang mengundang dan diundang," ucapnya.

 

2 of 3

Data Apa Saja yang Disalahgunakan?

Pada keterangan yang Zuckerberg bawa ke Kongres, tertulis yang diambil bukanlah data-data bersifat pribadi, melainkan informasi yang memang dipampang untuk umum oleh si pengguna.

Contohnya, informasi hari ulang tahun, halaman yang disukai, jaringan pertemanan, dan informasi lain yang di-setting terlihat publik.

Dengan demikian, bila pengguna memakai setelan publik di produknya, maka semakin banyak informasi yang dipanen perusahaan seperti Cambridge Analytica.

(Tom/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Berita Terkait