Menteri Rini Ingin Kopi Papua Mendunia

Oleh Septian Deny pada 20 Nov 2017, 19:10 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno ingin agar kopi asal Papua bisa mendunia. Dengan demikian, diharapkan kesejahteraan masyarakat di timur Indonesia tersebut bisa meningkat.

Hal ini disampaikan Rini saat berkunjung ke kebun kopi rakyat di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Dia mengungkapkan, kopi jenis arabika yang ditanam di Papua, khususnya Puncak Jaya, memiliki kualitas yang bagus. Namun, sayang perkebunan kopi yang ada selama ini belum digarap secara baik.

"Kopi mulia ini kualitasnya bagus. Tapi bagaimana bapak ibu petani yang memetik kopi bisa dapat pendapatan cukup, kopinya laku, tidak hanya di Indonesia, tapi dunia," ujar dia di Mulia, Puncak Jaya, Papua, Senin (20/11/2017).

Agar para petani di Mulia ini bisa mengolah kopinya secara baik dan menghasilkan kualitas yang bagus, ucap Rini, Bank Mandiri membantu pembinaan dan pelatihan petani kopi. Nantinya produk kopi tersebut juga akan dibeli dan distribusikan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

"Terima kasih yang sudah berikan pembinaan, sehingga kualitas kopi bisa menjadi nomor 1, harga 100 ribu per kg. Sehingga dapat terjaga kualitasnya. Ini Yang beli kopinya nanti PPI.‎ Kalau biji kopi diambil tepat waktu, penggilingan baik, kualitasnya akan bagus. Moga-moga Bank Mandiri bisa bantu," jelas dia.

Sementara itu, mengenai permintaan dari para petani terkait kekurangan pelatih, gudang dan peralatan, Rini menyatakan BUMN akan membantu menyiapkannya. Namun dengan syarat masyarakat di Puncak Jaya bisa hidup rukun dan menghindari konflik.

"Kami akan perhatikan gudang dan peralatan, tapi harus rukun, tidak boleh lagi ribut. Buat kelompok tani nanti dapat alat dan gudang. Tapi harus damai, jadi saya tidak takut ke sini. Kalau damai mudah-mudahan saya bisa sering ke sini. Ini harus dibina supaya dapat pendapatan yang bagus, kami janji bantu mengembangkan selama di sini damai," jelas dia.

Bupati Puncak Jaya Henok Ibo menyatakan, untuk meningkatkan pendapatan para petani kopi, ia telah menerbitkan surat keputusan (SK) terkait harga jual kopi petani.

"Kopi ini sudah 20-30 tahun ditanam‎, tapi persoalan besarnya adalah pemasaran. Saya sudah tanda tangan SK harga kopi, untuk kualitas nomor 1 harga 1 kg Rp 100 ribu, kualitas 2 harganya Rp 85 ribu, dan kualitas 3 Rp 50 ribu," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 of 2

Industri kopi

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong Indonesia menguasai industri gaya hidup dengan menggunakan kopi. Dia juga meminta pengusaha mengembangkan komoditas kopi tersebut.

Jokowi mengatakan, selain perkembangan era digital, masih ada potensi besar lain, yaitu era industri gaya hidup. Hal ini didorong dengan meningkatnya strata sosial penduduk beberapa negara, yaitu Amerika Selatan, India, Afrika, dan China.

"Beberapa ratus juta penduduk di Tiongkok, India, Amerika Selatan, Afrika, saat ini dalam proses naik kelas untuk menjadi konsumen golongan kelas menengah (middle class)," kata Jokowi, ‎saat menghadiri penutupan Rakornas Kadin, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Jokowi melanjutkan, era gaya hidup merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan dan bangsa Indonesia harus menguasainya. Dia juga meminta kalangan pengusaha tidak gagal menggarapnya.

"Ini masalah peluang, dan ratusan juta penduduk sedang dalam proses untuk bergabung ke global middle class. Inilah peluang bisnis besar, jangan sampai dilewatkan. Jangan kita gagal menggarapnya," ujar Jokowi.

Jokowi menuturkan, Indonesia memiliki potensi yang dibutuhkan industri gaya hidup, salah satunya adalah komoditas kopi. Saat ini kebutuhan kopi begitu besar, sementara lahan yang dimiliki Indonesia cukup untuk memenuhinya.

"Menanamnya di seluruh Indonesia ini mau semuanya, dari Sabang sampai Merauke mau, kopi di Aceh, Bali ada, Sulawesi, Papua ada. Lahannya bisa semuanya dan pertumbuhannya luar biasa," papar Jokowi.

Namun, dia menyayangkan, saat ini pengembangan komoditas tersebut dari hulu sampai hilir belum optimal. Seperti kualitas kopi yang ditanam petani Indonesia kurang diperhatikan, peremajaan tanaman kopi pun masih minim. Sedangkan sekolah mengenai kopi belum ada dan pendidikan peracik kopi (barista) juga belum ada.

Lanjutkan Membaca

Berita Terkait