6.724 Petir Sambar Muara Teweh dalam Setengah Hari

Oleh Liputan6.com pada 07 Des 2017, 18:02 WIB
Ilustrasi petir

Liputan6.com, Muara Teweh - Sebanyak 6.724 kali sambaran petir melanda wilayah Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, ketika terjadi hujan sejak Kamis (7/12/2017) dini hari pukul 01.00 WIB sampai pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

"Puncak sambaran petir terjadi pada Kamis, dini hari, sekitar pukul 02.00 sekitar tiga kali sambaran petir," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muara Teweh Juli Budi Kisworo melalui Kepala Kelompok Teknisi BMKG Sunardi di Muara Teweh, dilansir Antara.

Hal itu berdasarkan rekaman alat deteksi sambaran petir (lightning detector) yang dimiliki BMKG Muara Teweh saat terjadi hujan dengan intesitas lebat dan angin sedang pada Kamis dini hari.

"Hujannya 67,5 milimeter atau intensitas lebat, namun angin terbanyak ke arah barat daya tidak kencang hanya sekitar lima kilometer per jam. Namun, petirnya yang kuat," katanya.

Puncak sambaran petir berada di kawasan selatan, yakni di wilayah Kecamatan Montallat dan Gunung Timang hingga Kabupaten Barito Selatan. "Kami belum menerima laporan apakah rentetan sambaran petir yang terjadi pada Kamis dini hari itu berdampak merusak atau tidak," kata dia.

Sambaran petir ini bisa saja terjadi pada waktu yang sama di daerah terdekat sesuai radius 80 kilometer. Daya jangkau alat pendeteksi petir di BMKG Muara Teweh mencapai wilayah Kabupaten Murung Raya, Barito Timur, Barito Selatan, serta sebagian selatan wilayah Kalimantan Timur.

"Namun, pada puncak sambaran petir itu pusatnya memang terjadi di wilayah luar kota Muara Teweh," kata dia.

 

 

 

1 of 2

Garis Khatulistiwa

Petir
Ilustrasi Petir (AFP PHOTO / HECTOR RETAMAL)

Alat pendeteksi sambaran petir di Pulau Kalimantan hanya berada di wilayah Kalteng. Alat itu mulai dioperasikan BMKG sejak Agustus 2006 bersama kota lainnya, seperti Palangka Raya dan Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.

Kabupaten Barito Utara yang berada di pedalaman daerah aliran sungai (DAS) Barito ini merupakan kabupaten di tengah-tengah Pulau Kalimantan sebagai kawasan lintasan angin dan pusat pertemuan awan serta berada di wilayah lintasan garis khatulistiwa.

"Dasar pertimbangan itulah, Kabupaten Barito Utara dilengkapi alat pendeteksi sambaran petir karena potensi petir sangat besar terjadi di daerah ini," kata Sunardi.

Seorang warga Jalan Semoga Indah, Muara Teweh, Firmanson, mengatakan akibat sambaran petir pada Kamis dini hari, lampu listrik PLN di kawasan tempat tinggalnya langsung padam dan baru diperbaiki pagi harinya.

"Sambaran petir ini juga merusak alat internet (Speedy) milik warga lainnya di kawasan tempat tinggal kami," ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut:

Lanjutkan Membaca ↓