Cilacap Dikepung Banjir dan Longsor Usai Hujan Deras Dua Hari

Oleh Muhamad Ridlo pada 15 Nov 2017, 07:01 WIB
Cilacap Dikepung Banjir dan Longsor Usai Hujan Deras Dua Hari

Liputan6.com, Cilacap - Kabupaten Cilacap adalah daerah dengan risiko tertinggi bencana alam di Jawa Tengah. Kabupaten yang membentang dari pegunungan tengah Jawa ke pesisir pantai selatan Jawa ini berada di urutan ke-17 paling berisiko di Indonesia.

Kontur miring pegunungan tengah Jawa menyebabkan sembilan kecamatan diidentifikasi sebagai zona merah longsor. Beberapa desa di antaranya kerap terancam banjir bandang, lantaran terdapat sungai arus deras. Sementara itu, lebih dari 11 kecamatan lainnya berkategori rawan banjir rendaman dan rob.

Intensitas bencana banjir dan longsor di Cilacap pada November 2017 cenderung meningkat bersamaan dengan sering turunnya hujan deras. Seperti yang terjadi pada Senin dan Selasa ini, bencana tanah longsor dan banjir melanda belasan desa, usai didera hujan deras nyaris dua hari berturut-turut.

Bencana longsor dilaporkan terjadi di empat kecamatan yang wilayahnya berada di pegunungan tengah Jawa. Keempat kecamatan tersebut adalah Karangpucung, Cimanggu, Wanareja, dan Dayeuhluhur.

Hingga Selasa sore, 14 November 2017, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih mendata jumlah total titik longsor. Puluhan titik longsor dan jalan ambles terjadi di belasan desa wilayah empat kecamatan tersebut.

"Kalau rentetan kejadian itu banyak sekali. Ada Mandala juga di sana. Ada puluhan dan ada beberapa titik lokasi. Ya seperti Mandala itu juga ada, Bingkeng, kemudian Matenggeng, Hanum, juga ada," kata Kepala UPT BPBD Majenang, Edi Sapto Prihono.

Data sementara ini, longsor menimpa tujuh rumah di Desa Mandala Kecamatan Cimanggu dan Hanum Kecamatan Dayeuhluhur. Longsor juga menutup akses jalan Desa Dayeuhluhur menuju Matenggeng. Di luar itu, puluhan titik longsor menimpa jalan dan lahan pertanian warga.

Sebelum ini, pada akhir pekan lalu, angin puting beliung dan hujan deras juga menyebabkan 29 rumah di Desa Bingkeng dan Hanum Kecamatan Dayeuhluhur rusak.

Tercatat, lima rumah rusak sedang lantaran tertimpa pohon tumbang. Sementara itu, belasan rumah lain mengalami rusak ringan, seperti atap terbang dan pecah.

"Itu kecamatan masing-masing seperti Karangpucung, Cimanggu, kalau Majenang sementara tidak ada. Yang ada Wanareja dan Dayeuhluhur. Seperti kejadian kemarin, puting beliung juga menyebabkan puluhan rumah rusak," Edi menjelaskan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

1 of 2

Banjir Landa 5 Kecamatan

Longsor menimpa bagian belakang empat rumah di Desa Mandala Kecamatan Cimanggu, Cilacap. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Longsor menimpa bagian belakang empat rumah di Desa Mandala Kecamatan Cimanggu, Cilacap. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Sementara, Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy menjelaskan, banjir rendaman juga terjadi di sejumlah desa di kecamatan Sidareja, Gandrungmangu, Kawunganten dan Kecamatan Bantarsari. Air mulai menggenang sejak Senin sore dan menyebabkan ratusan rumah terendam antara 20-30 sentimeter.

Wilayah yang terendam antara lain, Desa Gunungreja, Tegalsari, Sidamulya dan Desa Sidareja, Kecamatan Sidareja. Kemudian, Desa Gandrungmangu, Kecamatan Gandrungmangu dan Desa Bangunreja, Kecamatan Bantarsari.

Banjir tak hanya menyebabkan rendaman di permukiman penduduk. Benih padi dan tanaman padi berusia muda di Kecamatan Sidareja dan Kedungreja pun terancam mati karena rendaman. Tanaman muda dipastikan busuk jika terendam air lebih dari empat hari.

"Kalau tumbuh juga tidak bagus. Soalnya daun sama batangnya sudah ada yang busuk atau dimakan keong," kata Sururudin, Kepala Desa Bojongsari.

Surur menuturkan, petani terpaksa menyemai benih lagi untuk mengantisipasi rendaman yang telah berkali-kali terjadi. Akibatnya, tanam serentak padi yang dicanangkan jauh-jauh hari terancam gagal total.

Lanjutkan Membaca ↓