10 Kawasan di Jawa Barat Berpotensi Alami Kekeringan Ekstrem

Oleh Ola KedaArie Nugraha pada 14 Sep 2017, 10:00 WIB
Majalengka Kekeringan

Liputan6.com, Bandung - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung menyebutkan, sebanyak 10 kawasan di empat daerah di Jawa Barat berpotensi mengalami kekeringan ekstrem.

Kawasan itu antara lain, Salam Darma, Karang Anyar, Pusaka Nagara di daerah Subang, Cinangka, Purwakarta, Cibukamanah, Cikao Bandung di Purwakarta, Cimalaka di Sumedang serta Cidempet, Bondan di Indramayu.

Menurut Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Tony Agus Wijaya, pemicu potensi kekeringan ekstrem di seluruh kawasan itu adalah tidak turunnya hujan lebih dari 60 hari.

"Perlu dilihat di tiap daerah yang telah terjadi, lebih dari 60 hari tidak terjadi hujan, jika tidak ada irigasi dan cadangan air tanah, maka perlu droping air bersih," kata Tony Agus Wijaya dalam keterangan tertulisnya kepada Liputan6.com, Bandung, Rabu, 13 September 2017.

Tony Agus Wijaya mengatakan, selain 10 kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrem, hampir 40 kawasan lainnya terpantau mengalami hari tanpa hujan yang sangat panjang. Kondisi itu terjadi di kawasan Bendung Bekasi, Tambun di Bekasi, kawasan Pasir Ukem, Pataruman di Karawang, kawasan Dangdeur, Ciasem di Subang, kawasan Juntinyuat, Losarang, Indramayu, Krangkeng di Indramayu, kawasan Gegesik di Cirebon.

Sedangkan kawasan yang mengalami hal serupa, imbuh Tony, terjadi di Waduk Darma daerah Kuningan, kawasan Rentang, Sadawangi, Banjaran, Rawa, Sunia, Pajajar, Talaga, Cikijing, Majalengka di Majalengka, kawasan Bantardewa, Ciamis di Ciamis, kawasan Malangbong, Leles, Banyuresmi, Haurwangi di Garut, kawasan Ciparay, Cikancung di Kabupaten Bandung, kawasan Bojong Picung di Cianjur serta kawasan Lengkong, Cikaso, Tegal Buleud di Sukabumi.

"Kekeringan juga dipengaruhi juga oleh faktor irigasi serta sumber air di permukaan dan air tanah," ujar Tony.

Ia menjelaskan, sebagian besar kawasan di Jawa Barat mengalami kekeringan ekstrem dan hari tanpa hujan yang sangat panjang. Namun, sampai data terakhir terjadinya hujan pada 10 September 2017, masih terdapat daerah yang mengalami turunnya hujan.

Hujan masih turun di sebagian wilayah Bogor, Bandung tengah, Garut Utara, dan Tasikmalaya Selatan, disebutkan olah otoritas pemantau cuaca tersebut. Tetapi, pada awal bulan ini, sebagian besar wilayah Jawa Barat mendapatkan distribusi curah hujan dengan kriteria rendah.

"Yaitu 0-50 milimeter per dasarian curah hujan yang terjadi," Tony menjelaskan.

Sedangkan wilayah yang mendapatkan distribusi curah hujan dengan kriteria menengah, yaitu sekitar 50-150 milimeter dasarian terjadi di sebagian wilayah Bogor Barat dan Sukabumi Utara. BMKG memperkirakan secara umum, wilayah Jawa Barat masuk musim hujan pada akhir Oktober 2017.

Saksikan video pilihan berikut ini!

1 of 2

13 Kabupaten/Kota di NTT Darurat Kekeringan

13 Kabupaten/Kota di NTT Darurat Kekeringan
Kemarau panjang yang melanda Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat 13 kabupaten/kota di NTT kini dalam kondisi darurat kekeringan. (Liputan6.com/Ola Keda)

Kemarau panjang yang melanda Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT), membuat 13 kabupaten/kota di NTT kini dalam kondisi darurat kekeringan.

"Wilayah-wilayah tersebut saat ini masih menunggu bantuan tanggap darurat dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, dan ada yang sudah dibantu dengan APBD," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT Tini Tadeus mengatakan itu kepada Liputan6.com, Rabu, 13 September 2017.

Dari 13 daerah yang darurat kekeringan itu, baru tiga wilayah yang sudah memiliki dana tanggap darurat yang sudah dialokasi dalam APBD yaitu Kota Kupang, Sumba Barat, dan Timor Tengah Selatan (TTS).

"Walaupun sedikit, tapi sudah ada dalam APBD untuk menangani kekeringan untuk droping air bersih," kata Tini.

Tadeus mengatakan, sembilan kabupaten sudah mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan dari BNPB, karena telah dinyatakan tanggap darurat kekeringan oleh para bupati. Sembilan kabupaten tersebut adalah Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya (SBD), Sikka, dan Sabu Raijua.

"Kita sudah merekomendasikan itu dan prosesnya sudah sampai ke BNPB," ujar Tadeus.

Sementara, Kabupaten Flores Timur yang juga dilanda kekeringan, sudah mendapatkan bantuan dari BNPB karena terlebih dahulu mengajukan proposalnya ke pusat.

Program Khusus Lahan Kering

Kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah di Nusa Tenggara Timur(NTT) saat ini mendapatkan bantuan dari Dinas Pertanian NTT. Bantuan itu berupa berupa pompa air untuk dimanfatkan oleh petani dalam mengatasi kekeringan.

"Kita programkan untuk disiapkan sarana dan prasarana mendorong penanaman padi, jagung, dan kedelai untuk persiapan benih di musim hujan," kata Kepala Dinas Pertaniaan NTT Yohanes Tai Ruba.

Selain itu, ada pula program khusus untuk lahan kering. Di antaranya, mengarap lahan kering lebih banyak dengan memanfaatkan lahan lereng, memanfaatkan perinsip-prinsip konservasi tanah dan air di lahan kering, serta mengajak petani membuka lahan yang tidak dimanfatkan agar bisa dimanfaatkan dengan baik.

"Untuk sekarang, kita memasuki puncak musim kering, tetapi petani kita masih ada yang tanam. Saat ini, kami minta bantuan kementerian untuk bisa menambah pompa air untuk para petani," kata Yohanes.

Lanjutkan Membaca ↓