Sarapan Pagi Nikmat dengan Sepincuk Semanggi Suroboyo

Oleh Dhimas Prasaja pada 20 Mar 2017, 06:01 WIB

Liputan6.com, Surabaya - Pagi itu terdengar alunan lagu keroncong "Semanggi Suroboyo" di salah satu sudut Pasar Karang Menjangan, Kota Surabaya, Jawa Timur. Sesuai liriknya, tembang itu sudah jelas mewakili cita rasa menikmati Semanggi Suroboyo, salah satu kuliner andalan Kota Pahlawan.

Sebagian warga mengakui Semanggi Suroboyo semakin langka. Tak mengherankan, bila saat ini sulit menemui penjual kuliner yang tergolong jenis sayur kudapan tersebut.

Mungkin karena semakin langkanya bahan baku makanan ini juga. Sesuai dengan namanya, bahan baku kuliner yang satu ini adalah daun semanggi. Sejenis tanaman paku air yang biasa ditemukan di pematang sawah dan saluran irigasi. Namun di Surabaya saat ini lahan-lahan tersebut sudah banyak tergeser.

Saat ini, menurut Sumiyanti (43) penjual semanggi yang ditemui Liputan6.com, bahan baku makanan semanggi hanya ada di kawasan Benowo, Surabaya.

"Lahannya daun semanggi ini hanya ada di Desa Kendung, Benowo. Kalau di sana memang masuk wilayah pinggiran Surabaya dan betul berbatasan degan Gresik," ucap perempuan yang memiliki dua putra ini, Minggu 19 Maret 2017.

Dilihat dari isinya, semanggi tergolong makanan yang sangat sederhana juga menyehatkan. Disantap pagi hari usai jalan sehat sangat pas. Apalagi dinikmati siang hari saat Kota Surabaya yang cuacanya beberapa hari terakhir kerap diselimuti mendung, rasa semanggi juga terasa istimewa.

Lebih tepat lagi semanggi ini bersanding dengan minuman seperti sinom, beras kencur atau teh hangat. Terasa lebih nikmat pula bila makan siang bersama keluarga besar.

Semanggi ini sepintas memang perwajahannya bentuknya mirip pecel. "Tapi kalau semanggi ini hanya dinikmati sayurnya bersamaan dengan kecambah dan bumbunya yang bahannya terbuat dari ketela rebus dengan petis dan gula merah," tutur penjual semanggi gendongan tersebut.

Menurut dia, Semanggi Suroboyo bila disajikan bersama lontong seperti pecel, hanya variasi rasa.

Bedanya, pecel biasa disajikan dengan lauk seperti tempe, tahu, atau yang mendampingi nasi. "Namun, semanggi tidak, kudapan ini bukan lauk karena tak disajikan bersama nasi atau lontong," tutur Sumiyanti atau akrab disapa Sumi.

Bicara rasa bumbu, Semanggi Suroboyo cenderung manis. "Kalau ingin pedas tinggal tambahkan saja sambal yang sudah disiapkan," kata Sumi.

Pecel Semanggi atau Semanggi Suroboyo salah satu kuliner andalan Kota Surabaya. (Liputan6.com/Dhimas Prasaja)

Seperti pecel, kudapan semanggi ini juga biasa disebut Pecel Semanggi. Tetapi bumbu utama semanggi ini adalah rebusan ketela rambat yang dilumat dengan kacang tanah, gula merah, dan petis. Sambal cabai dibuat secara terpisah.

Cara menyajikan Semanggi Suroboyo pun tergolong ndeso alias tradisional. Penjual Semanggi lebih mengutamakan daun pisang dilapisi kertas bungkus cokelat untuk menyajikannya.

Ya, pincuk nama tempat itu yang dilipat segitiga dan untuk memakannya tanpa sendok ataupun garpu. Sebagai pengganti sendok adalah Kerupuk Puli, kerupuk yang terbuat dari beras dan juga bisa dengan daun pisang itu sendiri.

"Sajian daun semanggi ini terus dicampur pada saat hendak dihidangkan karena bahan utamanya telo (ketela)," ujar perempuan yang mengaku bermodal Rp 150 ribu untuk setiap berjualan Semanggi Suroboyo ini.

"Dan jika ingin rasa pedas, tentunya ditambah dengan sambal yang pedas, tapi tanpa meninggalkan rasa yang didominasi rasa manis ketela," Sumi menambahkan.

Sangat sulit menemui penjual semanggi gendongan. Kadang kala mereka ada di Taman Bungkul, atau di sejumlah Pujasera seperti di Jalan Diponegoro 56, Surabaya.

Buat menikmati kuliner Surabaya tersebut, harga yang ditawarkan cukup bervariatif. Bahkan, sangat ramah dengan kantong pembeli. Satu porsi dibanderol Rp 7.000 hingga Rp 10 ribu.