2 Anak Pemulung Menyambung Mimpi dengan Jual Jagung Keliling

Oleh Ola Keda pada 13 Feb 2017, 10:03 WIB

Liputan6.com, Kupang - Novi Tasakan (12) dan Bendrik Tasakan (10), dua bocah kakak beradik yang masih duduk di bangku SD Bertingkat Kelapa Lima 3, Kota Kupang, menghabiskan waktu usai sekolah dengan berjualan jagung rebus keliling.

Usai jam sekolah, anak seorang pemulung itu berjalan kaki memikul jualannya mengelilingi kota. Mereka berjualan membantu orangtuanya demi memenuhi kebutuhan sekolah.

"Setelah pulang sekolah, kami jualan sampai malam baru masuk rumah. Kalau sudah malam, bapak yang biasa jemput kami di Taman Nostalgia. Kadang jualannya tidak habis laku," ujar Novi kepada Liputan6.com, Sabtu, 11 Februari 2017.

Meski hidup sederhana, anak ketiga dan keempat dari lima bersaudara itu ternyata memiliki cita-cita tinggi. Novi bercita-cita sebagai guru, sedangkan Ben bercita-cita sebagai polisi.

"Saya ingin sekolah tinggi biar bisa bahagiakan orangtua. Bapak hanya pemulung, mama pagi-pagi ke pasar beli jagung muda untuk kami jual, sehingga kami harus kerja bantu mereka," kata Ben.

Dengan pendapatan tak tetap, perjuangan keduanya tak lepas dari ejekan teman sekolah karena jadi penjual jagung keliling. "Sering diolok teman, tapi saya tidak pernah malu karena saya mau bantu orangtua saya," ucap Novi.

Ayah kedua bocah, Yakonias Tasakan (45) mengaku tak punya pekerjaan lain selain jadi pemulung. Saat semua masih tertidur lelap, sekitar pukul 04.00 Wita, ayah lima anak itu sudah berjalan mengumpulkan sampah di setiap sudut kota.

"Saya berangkat subuh jam 04.00 Wita. Siangnya pulang makan dan usai kerja lagi sampai malam. Karena saya punya target satu hari harus dapat Rp 75 ribu," kata Yakonias.

Dari hasil memulung itu, sebagiannya disisikan untuk membayar kos dan sebagiannya untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan makan sehari-hari.

"Saya bersama istri dan lima anak ngekos sehingga dari Rp 75 ribu itu harus sisihkan juga untuk bayar kos, apalagi banyak kebutuhan untuk anak-anak," kata Yakonias.