Mengapa Warga Pilih Ojek dan Taksi Online di Balikpapan?

Oleh Abelda Gunawan pada 01 Feb 2017, 17:32 WIB

Liputan6.com, Balikpapan - Operasi layanan transportasi berbasis aplikasi kian marak di Balikpapan, Kalimantan Timur. Layanan itu dengan moda sepeda motor atau mobil. Jadi sebutannya ojek online atau taksi online.

Sejauh ini, pengoperasian jasa tersebut masih menuai pro kontra. Kalangan operator transportasi protes layanan transportasi berbasis online tersebut, sedangkan di sisi lain banyak warga yang merasa terbantu dan memanfaatkannya.

"Aku sangat terbantu dengan ojek online," kata Nuzul Husnah, staf ahli di DPR yang sering bertugas ke Balikpapan, Rabu (1/2/2017).

Alasannya, kata dia, waktu yang diperlukan untuk order relatif cepat, sehingga mudah kemana-mana. Selain itu, para sopirnya juga sopan.

Dari keterangan yang dihimpun Liputan6.com, alasan senada dikemukakan para konsumen ojek online di Balikpapan. Para pengguna senang dengan kepastian harga ojek online.

Selain itu, sarana transportasi online Balikpapan memiliki sarana prasarana pendukung kendaraan memadai. Sarana prasarana ini terbilang lebih baik dibandingkan yang dimiliki layanan transportasi konvensional.

Pemerintah Kota Balikpapan sendiri masih mengkaji masalah layanan jasa transportasi berbasis aplikasi yang menuai pro kontra. Pemerintah belum bisa melarang operasi jasa transportasi online seperti yang dituntut sebagian pihak.

"Keberadaan layanan online ini masih dipelajari," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Balikpapan, Freddy Pasaribu.

Freddy mengatakan pihaknya tidak bisa bertindak gegabah dalam penindakan layanan transportasi online di Balikpapan. Keberadaan kantor operator juga sudah mengantongi izin keramaian dari otoritas setempat.

"Sudah ada izin gangguan dari Pemerintah Kota Balikpapan makanya kita mau koordinasi dulu," ujar dia.

Selain itu, Pemkot Balikpapan menunggu surat resmi DPRD Balikpapan soal penutupan layanan jasa transportasi online. Hingga kini belum ada surat rekomendasi legeslatif yang sudah dikirimkan pada Pemkot Balikpapan.

"Rekomendasi seperti apa saya belum terima," ujar dia.

Sebelumnya, Forum Pengusaha Angkutan Kota Balikpapan menggelar aksi demo menuntut pembekuan layanan taksi online. Layanan taksi konvensional Balikpapan kesulitan bersaing menghadapi taksi online yang memanfaatkan perangkat teknologi aplikasi.

Adanya taksi online ini berdampak penurunan pendapatan sopir per harinya. Beberapa sopir taksi sudah memutuskan beralih profesi akibat penurunan pendapatan.

Mereka mengancam menggelar sweeping bila tuntutannya ini tidak segera dipenuhi. Sopir ini juga akan mogok massal bersama layanan transportasi angkutan kota Balikpapan.

Salah seorang sopir Balikpapan, Udin mengatakan pendapatannya menurun drastis sejak beroperasinya layanan taksi online. Saat ini dalam sehari hanya mampu mengumpulkan setoran sebesar Rp 50 ribu dari kebiasaan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

"Bahkan kita harus berhutang untuk tutupi setoran," ungkap dia.

Kondisi ini dialami hampir seluruh sopir taksi yang beroperasi di Balikpapan. Saat ini sedikitnya ada seribu sopir taksi konvensional dan 1.500 sopir angkutan kota Balikpapan.