07/07/2010 16:20
Timnas Uruguay
Uruguay Masih Berpesta
Piala Dunia 2010 | oleh Christian Dior
Fans Uruguay (© AFP 2010)
Liputan6.com, Montevideo: Mimpi Diego Forlan dkk untuk kembali mengangkat trofi PD yang ketiga kalinya bagi Uruguay harus berakhir setelah dikandaskan oleh Belanda pada babak semifinal PD 2010 di Cape Town Stadium, Rabu (7/7) dini hari. Timnas Uruguay, yang sempat menorehkan sejarah dengan merengkuh dua kali gelar juara (1930 dan 1950), akhirnya harus angkat koper dari perhelatan akbar PD Afrika Selatan ini. Meski begitu aroma perayaan masih kental menyelimuti jalan-jalan kota Uruguay. Kesuksesan Forlan dkk membawa La Celeste ke semifinal PD Afsel telah membuat seluruh negeri berpesta.
“Saya bangga dengan tim ini. Sedih karena kami hanya tinggal sedikit lagi mencapai final, tetapi juga bahagia karena kami tersingkir dengan kepala tetap tegak," ujar Milton Quintana, salah seorang suporter yang ikut serta dalam sebuah acara nonton bareng yang digelar di tengah-tengah kota Montevideo. “Mereka berjuang hingga akhir, terus berusaha dan menolak untuk menyerah,” lanjutnya lagi.
Rabu dini hari tadi, Diego Forlan dkk menunjukan semangat Garra Charrua, yang menjadi ciri khas permainan Uruguay. Ghara Charrua yang dalam bahasa pribumi berarti "cakar Charruan", adalah sebuah ungkapan yang merujuk kepada semangat pantang menyerah yang ditunjukkan oleh para pemain Uruguay hingga akhir pertandingan.
“Mereka memberikan semua kemampuan yang mereka miliki. Kita seharusnya merayakan ‘cakar-cakar’ yang dimiliki para pemain ini. Mereka bermain sebagaimana mereka seharusnya bermain. Kami senang karena mereka menunjukan kepada seluruh dunia bahwa kami adalah pejuang hingga akhir, meskipun ada kepedihan karena kami mungkin layak untuk tampil di final,” tutur seorang jurnalis olahraga, Ricardo Pineyrua.
Sementara itu pujian juga datang dari pejabat tertinggi di negeri yang hanya berpopulasi sekitar 3 juta jiwa ini. Presiden Uruguay, Jose Mujica, yang tidak bisa mendukung langsung Forlan dkk karena alasan kesehatan memuji La Celeste yang telah bermain dengan menjunjung tinggi martabat bangsa Uruguay. “Jika kami memiliki waktu lima menit lebih lama, kami bisa saja menang. Akan tetapi, meski kalah kami tetap menjaga martabat kami,” ujar mantan gerilyawan Marxis ini. (CHR/Timeslive)